Misteri Suara Dentuman dari Ruang Operasi RSUD dr. Soewandhie yang Berujung Maut
RSUD Dr. Mohamad Soewandhie Surabaya --
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID — Misteri suara dentuman keras dari dalam ruang operasi RSUD dr. Soewandhie Surabaya berbuntut panjang.
Keluarga almarhum Niman (59) melalui tim kuasa hukumnya resmi menuntut keadilan setelah upaya meminta klarifikasi terkait kematian korban usai timbulnya suara keras tersebut ditolak oleh manajemen rumah sakit.
BACA JUGA:Wali Kota Eri Sidak Lagi RSUD dr Soewandhie, Antrean Farmasi Mulai Terurai
Kuasa hukum keluarga korban, Ahmad Bahrul Effendi, mengungkapkan kronologi kejadian berawal saat almarhum Niman pertama kali masuk rumah sakit pada 31 Juli.

Mini kidi--
Sebelum dirujuk, almarhum disebut hanya mengalami kelelahan seusai bekerja dan tidak pernah memiliki riwayat penyakit jantung maupun catatan rawat inap sebelumnya.
"Keluarga klien kami sebelumnya dalam kondisi sadar dan tidak pernah punya riwayat sakit jantung, namun, oleh tim medis disarankan untuk operasi jantung. Keluarga sempat menolak dan menandatangani penolakan, tetapi karena ditegaskan bahwa operasi adalah jalan utama, keluarga akhirnya setuju," ujar Effendi, Selasa (11/8).
BACA JUGA:Wali Kota Eri Cahyadi Benahi Sistem Antrean dan Layanan Farmasi RSUD Soewandhie Surabaya
Tindakan operasi kemudian dilaksanakan pada 3 Agustus sekitar pukul 14.00 WIB. Pascaoperasi selesai, almarhum Niman yang sebelumnya dalam keadaan sadar mendadak mengalami kondisi kritis tak terduga.
"Setelah operasi selesai, keluarga yang menunggu di luar mendengar suara keras seperti dentuman dari dalam ruang operasi. Begitu dibilik lewat kaca, terlihat korban dalam keadaan syok, kaget, lalu mengalami kejang-kejang, sekitar 15 menit dari suara tersebut, pasien dinyatakan meninggal dunia," tambahnya.
BACA JUGA:DPRD Surabaya Soroti Waktu Tunggu Obat RSUD dr Soewandhie, Dorong Sistem Real-Time

Gempur Rokok Illegal--
Menurut Effendi, pihak RSUD dr. Soewandhie dinilai tidak transparan dan terkesan menutupi fakta di balik insiden suara dentuman tersebut.
Saat pihak keluarga dan tim penasihat hukum mencoba meminta klarifikasi langsung pada 4 Agustus lalu, Direktur RSUD dr. Soewandhie enggan memberikan penjelasan mendetai.
Sumber:




