Langit sore di taman kota itu berwarna jingga pucat, seperti menyimpan sisa-sisa luka yang belum sempat sembuh. Bintang duduk di bangku kayu yang dulu pernah menjadi saksi tawa bersama Bulan. Kini, hanya ada sunyi yang menemani.
Ia menatap kosong ke arah danau kecil di depannya. Ingatannya berputar, kembali ke masa ketika semua terasa sederhana. “Kalau nanti kita tua, kita tetap ke sini ya,” suara Bulan seakan masih menggema di telinganya. Bintang tersenyum getir. “Tapi sekarang kamu justru pergi,” gumamnya lirih. BACA JUGA:Perceraian Tinggi Lamongan Dorong MoU Lintas SektorMini Kidi Wipes.-- Keputusan untuk mengakhiri rumah tangganya bukan hal mudah. Ia masih mencintai Bulan. Bahkan, mungkin terlalu mencintai. Namun, pengkhianatan yang ia temukan membuat segalanya runtuh dalam sekejap. “Aku nggak pernah berniat menyakitimu, Bintang…” kata Bulan waktu itu, dengan mata berkaca-kaca. “Tapi kamu sudah melakukannya,” jawab Bintang pelan, menahan emosi. “Dan yang paling sakit… kamu memilih orang lain.” Sejak hari itu, Bintang mencoba menata ulang hidupnya. Ia mendatangi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, berharap menemukan kembali potongan cinta yang hilang. Namun, takdir justru mempertemukannya dengan masa lalu yang lain. “Bintang?” Suara itu membuatnya menoleh. Seorang perempuan berdiri beberapa langkah di depannya. Wajah itu tak asing. “Shinta?” Bintang terkejut. Shinta tersenyum tipis. “Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini.”
Gempur Rokok Ilegal. Ini Ciri-ciri rokok Ilegal.-- Waktu seakan mundur beberapa tahun. Shinta adalah cinta pertama Bintang—yang dulu pergi tanpa banyak penjelasan. Mereka duduk bersama, canggung di awal, lalu perlahan mencair. “Kamu… apa kabar?” tanya Bintang. Shinta menarik napas panjang. “Aku… sudah sendiri sekarang.” “Maksudnya?” “Suamiku meninggal dua tahun lalu. Kecelakaan pesawat.” Bintang terdiam. “Aku turut berduka, Shinta.” Shinta mengangguk. “Terima kasih. Hidup memang aneh ya… kita dipertemukan lagi di saat semuanya sudah berubah.”. (atp/fer/bersambung)