Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Sebelum Janur Kuning Terpasang (2): Menikah karena Tanggung Jawab

Sebelum Janur Kuning Terpasang (2): Menikah karena Tanggung Jawab

Hidup Berlian seolah hancur mendengar kabar kehamilan Bulan, Senyumnya hilang. Tatapannya kosong. Seolah otaknya belum mampu menerima apa yang baru saja didengarnya.

Bintang mendekat, tapi Berlian mundur. Jauh lebih sakit dikhianati oleh orang yang paling dipercaya. “Aku gak pernah cinta sama dia,” ucap Bintang.

BACA JUGA:Segelas Air Putih Setelah Bangun Tidur, Kebiasaan Sederhana yang Penting bagi Tubuh


Mini Kidi Wipes.--

Dan anehnya, kalimat itu justru semakin menyakitkan. Karena berarti semua ini terjadi bukan karena cinta. Melainkan karena kesalahan. Berlian menangis tanpa suara sambil melepas cincin tunangannya perlahan. Tangannya gemetar hebat. “Kalau dia gak hamil… kamu masih tetap nikah sama aku, kan?”tanya Berlian

Pertanyaan itu membuat Bintang membeku. Karena jawabannya adalah iya. Dan kejujuran itu terlalu kejam untuk diucapkan. Berlian tersenyum pahit sambil menyerahkan cincin itu kembali. “Pergilah.” tegas Berlian. “Berlian…”panggil Bintang. “Pergi sebelum aku makin benci sama kamu.”ucap Berlian penuh penekanan.

Air mata Bintang akhirnya jatuh. Untuk pertama kalinya. Ia kehilangan perempuan yang paling ia cintai, karena satu kesalahan yang bahkan tidak pernah ia rencanakan. Dan sejak malam itu, semuanya berubah. Bintang menikahi Bulan. Namun bukan karena cinta. Tapi karena rasa bersalah yang terlalu besar untuk ditinggalkan.

Hari pernikahan itu akhirnya datang. Tidak ada musik yang benar-benar membahagiakan hati Bulan. Tidak ada tatapan penuh cinta dari laki-laki yang duduk di sampingnya. Semua terlihat sempurna di mata tamu undangan.

Gedung megah. Dekorasi putih elegan. Keluarga besar datang lengkap sambil tersenyum bangga. Tapi tidak ada yang tah, pengantin laki-laki di hadapan mereka sedang memakamkan hidup yang sebenarnya ingin ia jalani bersama orang lain.

Bintang duduk diam di kursi pelaminan. Wajahnya tenang. Seolah semua emosinya sudah mati sejak hari ia kehilangan Berlian. “Mas…” panggil Bulan pelan.

Bintang menoleh singkat. “Kamu capek?”tanya Bulan. “Enggak.”jawab Bintang Singkat.

Bulan mulai sadar, pernikahan ini mungkin akan menjadi rumah paling sunyi yang pernah ia tempati. Beberapa jam setelah acara selesai, mereka akhirnya tiba di apartemen baru yang sudah dipersiapkan keluarga Bintang.

Malam pertama mereka terasa asing. Tidak ada tawa malu-malu. Tidak ada rasa hangat seperti pasangan yang saling mencintai. Hanya dua orang yang dipaksa keadaan untuk tinggal dalam satu kehidupan.


Gempur Rokok Illegal--

Bulan duduk di ujung ranjang sambil memainkan ujung gaunnya sendiri. Sedangkan Bintang berdiri di balkon sambil merokok diam-diam. Tatapan laki-laki itu kosong menembus gelap kota. “Mas…” suara Bulan lirih.

Bintang menoleh pelan. “Aku tahu kamu belum bisa nerima semua ini.”ucap Bulan. “Tapi aku janji aku bakal jadi istri yang baik.”ujarnya lagi.

Kalimat itu justru membuat dada Bintang terasa semakin sesak. Karena Bulan tidak pernah menuntut apa pun. Dan orang baik sering kali paling mudah disakiti oleh keadaan. “Aku gak benci kamu,” ucap Bintang akhirnya.

Bulan tersenyum kecil meski matanya terlihat sedih. “Tapi kamu juga gak cinta aku.”ucap Bulan

Bintang membuang napas panjang mendengar ucapan Bulan. Sunyi lagi. Jawaban itu terlalu jelas bahkan tanpa kata-kata. Air mata Bulan hampir jatuh, tapi ia tahan. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber: