Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Sebelum Janur Kuning Terpasang (4): Melepaskan demi Kebahagiaan

Sebelum Janur Kuning Terpasang (4):  Melepaskan demi Kebahagiaan

ilustrasi --

Saat Bulan sedang melihat kenangan foto dan video di ponsel Bintang, Beberapa menit kemudian, suaminya itu keluar dari kamar anak mereka. Langkahnya terhenti saat melihat Bulan. “Kamu belum tidur?”tanya Bintang

Bulan mengangkat wajahnya pelan. Matanya merah. “Aku lihat foto-foto kalian.”ucap Bulan

Wajah Bintang langsung berubah. Sunyi. Lagi-lagi sunyi yang menjawab segalanya. “Kenapa masih disimpan?” tanya Bulan lirih.

Bintang tidak bisa menjawab. Karena beberapa cinta memang tidak selesai meski waktu terus berjalan. “Aku udah berusaha jadi cukup buat kamu…” suara Bulan mulai bergetar.

BACA JUGA:Viral Pocong di Rumah Warga Rejotangan, Polisi Pastikan Informasi Hoaks


Mini Kidi Wipes.--

“Tapi ternyata selama ini aku cuma hidup di samping laki-laki yang masih mencintai perempuan lain.” “Bulan…”panggil Bintang. “Aku capek.”ucap Bulan.

Kalimat itu terdengar sangat lelah. Bukan marah. Bukan membenci. Hanya lelah menjadi orang yang terus berharap dicintai. Bintang mendekat perlahan. “Aku sayang sama kamu.”ucap Bintang.

Air mata Bulan jatuh. “Tapi kamu cinta sama Berlian.”ucap Bulan. Dan lagi-lagi… Bintang tidak bisa menyangkalnya. Itulah luka terbesar Bulan. Bukan karena suaminya selingkuh. Tapi karena hati suaminya tidak pernah benar-benar pulang.

“Aku pernah bertahan karena anak kita,” ucap Bulan lirih. “Aku pikir lama-lama kamu bisa lupa sama dia.”


Gempur Rokok Illegal--

Bintang menunduk dalam. “Aku juga pikir begitu.”ucap Bintang. “Tapi ternyata ada cinta yang gak pernah selesai ya?”Suara Bulan hancur di akhir kalimatnya.

Malam itu tidak ada teriakan. Tidak ada pertengkaran besar. Hanya dua orang yang akhirnya jujur setelah terlalu lama pura-pura kuat. Bulan mengambil map putih dari meja. Surat gugatan cerai. Bintang langsung menatapnya dengan napas tertahan.

“Aku gak mau anak kita tumbuh di rumah yang penuh kepura-puraan.” “Jangan pergi…” suara Bintang melemah.

Dan untuk pertama kalinya, Bulan tersenyum pahit. “Aneh ya…” Air mata Bulan jatuh perlahan. “Dulu aku memohon supaya kamu memilih aku…”ucap Bulan.

Ia menatap laki-laki di depannya lama sekali. “…tapi sekarang, bahkan saat kamu mencoba menahan aku, rasanya semuanya sudah terlambat.”ucapnya lagi

Bintang menangis malam itu. Benar-benar menangis. Karena akhirnya ia sadar perempuan yang selama ini tinggal di sampingnya bukan sekadar tanggung jawab. Bulan adalah rumah yang diam-diam telah mencintainya dengan sangat tulus.

Namun sayangnya, kesadaran itu datang ketika hati Bulan sudah terlalu lelah untuk bertahan. Dan beberapa penyesalan memang diciptakan bukan untuk diperbaiki melainkan untuk menemani seseorang seumur hidupnya. (atp/rdh/fer/habis)

Sumber: