Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
HJKS Banner
SFF 20266

Rumah yang Penuh Ketakutan (3) Aku Membawamu ke Meja Hijau

Rumah yang Penuh Ketakutan (3)  Aku Membawamu ke Meja Hijau

ilustrasi Bulan sedang mengaca.--

Pagi itu Bulan berdiri lama di depan cermin. Sudut bibirnya masih memar. Bekas tamparan beberapa hari lalu belum benar-benar hilang. Ia mencoba menutupinya dengan makeup tipis, tapi tetap terlihat samar di wajahnya.

Samar, namun cukup untuk mengingatkannya bahwa rumah tangga ini sudah terlalu lama penuh luka. Di ruang tengah, Damar sedang menggambar dengan krayon kecilnya. Bulan menghampiri perlahan lalu duduk di samping anaknya. “Kamu gambar apa, Sayang?” tanya Bulan

Damar diam beberapa detik sebelum menunjukkan kertas itu. Gambar rumah. Ada dirinya. Ada Bulan. Dan ada Bintang. Tapi di tengah gambar itu ada satu coretan hitam besar. “Ini apa?” tanyanya lagi. “Itu Papa lagi marah…”ucap Damar.

BACA JUGA:Hobi Positif Bantu Tingkatkan Produktivitas Sehari-hari, Ini Alasannya


Mini Kidi Wipes.--

Dada Bulan langsung terasa sesak. Tangannya gemetar memegang kertas gambar itu. Anaknya tidak menggambar rumah dengan bunga atau matahari seperti anak-anak lain. Anaknya menggambar ketakutan. Dan saat itulah Bulan sadar, kalau ia tetap bertahan, yang hancur bukan cuma dirinya. Tapi masa depan anak mereka juga.

Malamnya Bintang kembali pulang dalam keadaan emosi. Kantornya sedang bermasalah. Proposalnya ditolak. Dan seperti biasa, Bulan menjadi tempat pelampiasan semua amarah yang tidak bisa ia kendalikan. “Aku bilang jangan ganggu aku dulu!” bentaknya sambil melempar tas ke sofa.

Bulan berusaha tenang. “Aku cuma mau bilang Damar demam…”ucap Bulan.

Namun Bintang justru semakin marah. “Semua di rumah ini selalu bikin aku pusing!”ucap Bintang. PLAK!

Tamparan itu kembali jatuh. Kali ini lebih keras. Tubuh Bulan sampai tersungkur ke lantai. Damar yang melihat semuanya langsung menangis histeris sambil memeluk ibunya. “Papa jangan pukul Mama! Jangan!”ucap Damar


Gempur Rokok Illegal--

Tangisan anak kecil itu memenuhi rumah. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya Bulan tidak menangis. Ia hanya diam. Diam sambil memeluk anaknya erat. Lalu menatap Bintang dengan mata yang benar-benar berbeda.

Bukan takut. Bukan sedih. Tapi lelah. Sangat lelah. Malam itu, setelah Bintang tertidur karena emosinya sendiri, Bulan membuka lemari perlahan. Ia mengeluarkan map cokelat yang selama ini diam-diam ia simpan.

Foto lebam. Hasil visum. Rekaman suara bentakan. Semua bukti yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan sambil berharap tidak perlu digunakan. Air matanya jatuh satu per satu saat melihatnya. Ternyata selama ini ia hidup seperti orang yang sedang menunggu kehancurannya sendiri.

Bulan menatap Damar yang tertidur di sampingnya. Anak kecil itu bahkan masih memeluk bajunya erat saat tidur. Seolah takut ibunya akan pergi. Dan malam itu Bulan akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia tidak mau lagi mengajarkan anaknya bahwa cinta harus disertai ketakutan. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber: