Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Rumah yang Penuh Ketakutan (1): Selalu Salah di Matamu

Rumah yang Penuh Ketakutan (1): Selalu Salah di Matamu

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Malam itu suara piring pecah kembali terdengar. Bulan refleks menutup telinganya sambil mundur beberapa langkah. Tubuhnya gemetar. Napasnya tercekat saat serpihan kaca berserakan tepat di dekat kakinya.

Di depannya, Bintang berdiri dengan wajah penuh amarah. “Aku udah bilang jangan masak kayak gini!” bentak Bintang. Bulan menunduk cepat. “Maaf… tadi aku pikir kamu suka—”ucap Bulan.  “Jangan bantah aku!”bentak Bintang.

Suara itu menggema memenuhi rumah kecil mereka. Rumah yang dulu dibangun dengan cinta, namun sekarang dipenuhi rasa takut. Dari kamar, suara tangisan anak mereka mulai terdengar. Bulan spontan ingin menghampiri, tapi Bintang lebih dulu menarik lengannya kasar sampai perempuan itu meringis kesakitan. “Kamu selalu bikin aku emosi!” rahang Bintang mengeras. “Kenapa sih susah banget nurut sama apa yang aku mau?”ucap Bintang. “Mas… sakit…” suara Bulan hampir tidak terdengar.

Namun laki-laki itu justru semakin kasar mencengkeram tangannya. Wajah Bulan pucat. Ia sudah hafal tatapan mata itu. Tatapan ketika emosi Bintang mulai tidak bisa dikendalikan. Dan biasanya, setelah itu semuanya akan lebih menyakitkan. “Aku capek kerja seharian!” bentak Bintang lagi. “Aku pulang pengen tenang, bukan lihat semuanya berantakan kayak gini!”ucap Bintang.

Air mata Bulan mulai jatuh. Padahal sayur itu tidak asin. Rumah juga tidak berantakan. Tapi di mata laki-laki yang tempramental, selalu ada alasan untuk marah. Selalu ada alasan untuk menyalahkan istrinya. “Maaf…” hanya itu yang bisa diucapkan Bulan sambil menahan tangis.

BACA JUGA:Sebelum Janur Kuning Terpasang (4): Melepaskan demi Kebahagiaan


Mini Kidi Wipes.--

Karena selama delapan tahun menikah, ia belajar satu hal Semakin ia menjelaskan, semakin besar amarah suaminya. “Papa…”Suara kecil itu membuat keduanya menoleh. Anak laki-laki mereka berdiri di depan kamar sambil memeluk boneka lusuhnya. Wajah kecil itu basah oleh air mata. “Papa jangan marah sama Mama…”ucap Damar.

Dan entah kenapa, kalimat polos itu membuat hati Bulan terasa remuk saat itu juga. Anaknya sudah terlalu sering melihat semua ini. Terlalu sering mendengar bentakan. Terlalu sering melihat ibunya menangis diam-diam.

Bintang mengusap wajahnya kasar lalu menendang kursi di dekatnya sebelum masuk ke kamar.  Pintu dibanting keras. Bulan langsung terduduk lemas di lantai. Tangannya memerah bekas cengkeraman. Dadanya sesak. Anaknya segera memeluknya kecil-kecil. “Mama sakit ya?”tanya Damar.


Gempur Rokok Illegal--
Bulan langsung menangis. Bukan karena rasa sakit di lengannya. Tapi karena anak sekecil itu mulai tumbuh di dalam rumah yang penuh ketakutan. “Mama gak apa-apa…” bisiknya lirih sambil memeluk anaknya erat.

Padahal sebenarnya, ia perlahan hancur setiap hari. Malam pertengkaran usai. Bintang kini sudah tertidur di kamar seperti tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Bulan duduk sendirian di dapur sambil mengompres lebam di tangannya. Air matanya jatuh perlahan.

Di dinding masih tergantung foto pernikahan mereka. Foto ketika Bintang tersenyum begitu lembut sambil menggenggam tangannya. Dulu laki-laki itu sangat berbeda. Dulu Bintang selalu berkata “Aku bakal jadi rumah paling aman buat kamu". Bulan tertawa kecil di tengah tangisnya sendiri. "Rumah aman seperti apa?" Tanya dalam hatinya. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber: