TIDAK ada lagi yang perlu ditanyakan.
Setelah hari itu, rumah terasa seperti ruang yang hanya diisi oleh dua orang yang sudah tidak lagi saling menggenggam. Bintang tidak lagi berusaha menjelaskan terlalu banyak. Bulan juga tidak lagi mencari jawaban.
Semua sudah terlalu jelas.
Malam itu, Bulan duduk di ruang tamu dengan satu map di tangannya. Isinya sederhana beberapa lembar kertas yang sudah ia pikirkan berhari-hari.
Mini Kidi Wipes.--
Bintang keluar dari kamar dan berhenti melihatnya.
“Kamu lagi apa?” tanyanya pelan.
Bulan mengangkat wajahnya. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Hanya ketenangan yang aneh.
“Aku capek, Mas.”
Bintang terdiam.
Bukan karena ia tidak tahu maksudnya, tapi karena ia tahu kalimat itu bukan lagi keluhan itu keputusan.
“Aku sudah mencoba mengerti. Aku sudah mencoba bertahan. Bahkan di hari yang seharusnya kita saling memaafkan, aku masih berharap semuanya bisa kembali.”
Bintang duduk perlahan di hadapannya.
“Aku minta maaf,” katanya lirih.
Bulan tersenyum tipis. “Aku sudah dengar itu.”