“Makanan ini hambar,” katanya suatu malam.
Bulan yang sudah sangat lelah hanya menatapnya sebentar sebelum kembali ke dapur tanpa berkata apa-apa.
Bukan karena ia tidak peduli. Tapi karena tenaganya sudah hampir habis untuk menjelaskan.
Di luar rumah, tekanan juga datang dari arah lain.
“Kamu masih muda,” kata seorang kerabat suatu hari. “Kamu harus memikirkan masa depanmu juga.”
Bulan tidak menjawab. Ia tidak ingin mendengar kalimat itu. Namun benih keraguan mulai tumbuh diam-diam di dalam pikirannya.
Suatu malam, setelah Bintang tertidur karena obat, Bulan duduk sendirian di ruang tamu. Ia menatap foto lama mereka wajah Bintang yang dulu penuh semangat, tubuh yang kuat, tawa yang mudah keluar.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa hidup bisa berubah secepat ini.
Di kamar, Bintang terbangun dan memanggil pelan, “Bulan…”
Bulan segera masuk.
“Aku minta maaf,” kata Bintang dengan suara lemah.
“Untuk apa?”
“Untuk hidup yang sekarang.”
Bulan tidak menjawab.
Gempur Rokok Ilegal.--
Karena dalam hatinya, ia tahu sesuatu yang menakutkan mulai terjadi: cinta yang dulu terasa kuat kini mulai bercampur dengan kelelahan.