Kota pesisir membutuhkan pendekatan jangka panjang yang terintegrasi, salah satu langkah penting adalah memperkuat perlindungan alami melalui rehabilitasi mangrove di kawasan pantai.
Penanaman kembali mangrove dapat membantu menahan gelombang sekaligus memperbaiki keseimbangan ekosistem.
Selain itu, pembangunan infrastruktur pengendali rob juga perlu dipertimbangkan secara serius.
Tanggul laut, sistem pompa, serta peningkatan kapasitas drainase dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi kota terhadap perubahan iklim.
BACA JUGA:Ironi BoP dan Narasi Perdamaian Semu
Namun solusi infrastruktur harus diiringi dengan penataan ruang yang lebih bijak.
Pemerintah kota juga perlu meninjau kembali kebijakan pembangunan di kawasan pesisir.
Wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap rob seharusnya tidak dijadikan lokasi ekspansi permukiman atau industri tanpa perhitungan matang.
Perencanaan kota masa depan harus memasukkan faktor perubahan iklim sebagai bagian penting dari strategi pembangunan.
BACA JUGA:Cukup Saya WNI, Anak Jangan? Memahami Batas Pilihan Kewarganegaraan Anak
Peran masyarakat juga tidak kalah penting, kesadaran untuk menjaga lingkungan pesisir, mengurangi eksploitasi air tanah, serta mendukung upaya konservasi mangrove dapat membantu mengurangi risiko rob di masa depan.
Adaptasi terhadap perubahan iklim bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh warga kota.
Belajar dari rob yang terjadi di kawasan seperti Osowilangun, Surabaya memiliki kesempatan untuk bersiap lebih dini menghadapi tantangan kota pesisir.
BACA JUGA:Baja untuk Bocah
Rob mungkin masih terlihat sebagai genangan kecil hari ini, namun jika diabaikan, ia bisa menjadi pertanda dari masalah yang jauh lebih besar di masa depan.
Kota besar yang tumbuh di tepi laut pada akhirnya harus belajar satu hal penting: pembangunan tidak boleh mengabaikan batas-batas alam, jika tidak, laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan bisa perlahan mengambil kembali ruang yang pernah menjadi miliknya.