Perjalanan Sunyi Andik Mencari Kebenaran Iman, Gagal Jadi Pastor Malah Temukan Islam

Sabtu 28-02-2026,08:00 WIB
Reporter : Wendy Setiawan
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Proses merenung itu berlangsung tanpa paksaan ataupun tekanan dari pihak mana pun. 

Buku tersebut menjadi penuntun dalam keheningan berpikirnya. Perlahan, langkahnya mulai menjauh dari gereja, bukan karena kebencian, melainkan karena rasa haus akan kebenaran yang lebih dalam.

"Berdasarkan beberapa rekomendasi dan apa yang saya pelajari, akhirnya saya menetap memeluk Islam pada 14 Februari 2007, saat SMK kelas 11," ungkap Andik.

BACA JUGA:Kisah Sejuk Liana Wardani, Islam dan Meja Makan Lintas Iman

Ikrar syahadat dilakukan secara resmi di masjid sekolah pada jam pelajaran agama. Namun, masa awal menjadi mualaf harus ia lalui dalam kesembunyian. Selama enam tahun, ia menyimpan rapat identitas barunya dari keluarga besar.

"Saya sembunyi-sembunyi. Saya tidak menyampaikan kalau saya mualaf ke orang tua. Baru pada 2013 saya jujur kepada mereka," paparnya.

BACA JUGA:Merinding Baca Syahadat, Kisah Perjalanan Spiritual Angga Wibisono Jadi Mualaf

Selama masa "persembunyian" itu, menjalankan ibadah bukanlah perkara mudah karena ia masih tinggal satu atap dengan keluarga. Perjuangan paling berat terasa saat bulan Ramadan tiba.

Situasi mulai mencair ketika Andik pindah ke Surabaya. Jauh dari rumah memberinya ruang untuk beribadah lebih bebas, meski ia harus menahan rindu pada masakan dan kebersamaan keluarga.

BACA JUGA:Labuhan Terakhir Ismail, Dari Taiwan Menjemput Cahaya Islam di Sidoarjo

Keberanian untuk berterus terang akhirnya muncul karena beberapa kerabatnya ternyata juga sudah memeluk Islam. 

"Respons orang tua ternyata menerima saja. Kakak, bapak, dan ibu, semuanya menerima," urainya dengan nada lega.

Keajaiban spiritual itu tak berhenti pada dirinya. Bak efek domino, sang ayah memutuskan memeluk Islam pada November 2013, disusul sang ibu pada April 2014, dan sang kakak pada 2017. 

"Sekarang sudah muslim semua. Alhamdulillah," cetusnya dengan penuh syukur.

BACA JUGA:Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh

Bagi Andik, keteraturan ajaran Islam menjadi daya tarik utama. Ia menemukan harmoni antara iman dan logika, seperti larangan minuman keras yang tidak hanya bernilai spiritual tetapi juga masuk akal secara medis. Keyakinannya kini telah mengakar kuat.

Kategori :