Bintang merasa terpojok, tapi untuk pertama kalinya ia melihat dari sudut yang berbeda. Selama ini ia mengira sedang adil. Ia mencoba menyenangkan dua perempuan sekaligus tanpa sadar membuat salah satunya selalu mengalah.
“Kalau aku tetap seperti ini?” tanyanya pelan.
Bulan mengangguk kecil. “Berarti aku yang akan berhenti.”
Bukan ancaman. Bukan drama. Hanya batas.
Malam itu Bintang tidak langsung menjawab. Ia duduk lama, memikirkan satu hal yang selama ini tak pernah ia akui: menjadi anak yang baik tidak boleh membuatnya gagal menjadi suami yang tegas.
Keesokan harinya, ia mendatangi ibunya.
“Bu, mulai sekarang keputusan rumah tangga biar aku dan Bulan yang atur,” katanya pelan namun pasti. “Doakan saja. Jangan khawatir, aku tetap anak Ibu.”
Ibunya terdiam, mungkin kecewa, mungkin tersinggung. Tapi untuk pertama kalinya, Bintang berdiri sebagai kepala rumah tangga, bukan hanya sebagai anak.
Gempur Rokok Illegal--
Ketika ia pulang dan berkata pada Bulan, “Aku sudah bicara sama Ibu,” Bulan tidak langsung tersenyum. Ia hanya berkata, “Aku tidak butuh kamu melawan siapa pun. Aku cuma butuh kamu berdiri di sampingku.”
Dan untuk pertama kalinya, Bintang benar-benar melakukannya.
Karena dalam pernikahan, tidak ada ruang untuk dua pusat kendali.
Dan kadang, cinta tidak diuji oleh orang ketiga melainkan oleh keberanian seorang laki-laki untuk menentukan batas antara rumah lamanya dan rumah yang sedang ia bangun.