RUMAH itu tidak lagi berisik oleh perdebatan. Justru sunyinya yang terasa berat.
Sejak kepindahan ibunya yang makin sering datang dan keputusan-keputusan yang selalu melibatkan suara dari rumah lama, Bulan mulai berubah. Ia tidak lagi membantah. Tidak lagi berdiskusi panjang. Ia menjalankan semuanya seperti rutinitas yang harus diselesaikan.
Suatu malam, setelah anak mereka tidur, Bulan berkata pelan, “Mas, kita harus bicara.”
Bintang menghela napas, sudah bisa menebak arah pembicaraan. “Soal Ibu lagi?”
“Bukan soal Ibu,” jawab Bulan tenang. “Soal kamu.”
Mini Kidi Wipes.--
Bintang terdiam.
“Aku nggak pernah minta kamu berhenti jadi anak yang baik,” lanjut Bulan. “Tapi aku nggak bisa terus hidup dengan perasaan bahwa setiap keputusan kita harus disetujui orang lain dulu.”
“Ibu cuma ingin yang terbaik,” jawab Bintang, nada defensifnya masih sama seperti dulu.
“Lalu aku?” tanya Bulan. “Aku ingin yang terbaik juga untuk keluarga ini. Tapi suaraku selalu kalah.”
Kalimat itu tidak keras, tapi final.
Bulan berdiri dan menatap suaminya dengan tenang, bukan marah. “Aku kasih kamu pilihan. Kita tetap bangun rumah tangga ini dengan batas yang jelas, atau kamu tetap biarkan Ibu masuk ke semua keputusan kita. Tapi aku nggak akan terus hidup di tengah-tengah.”
“Pilihan?” ulang Bintang pelan.
“Iya. Aku tidak memintamu memilih antara aku dan Ibumu. Aku memintamu memilih peranmu. Kamu mau jadi suami yang memimpin rumah ini, atau anak yang selalu menunggu arahan?”
Ruangan terasa sempit.