Bintang tidak menyangkal. “Aku nggak pernah tahu rasanya sampai dia panggil aku Ayah.”
Bulan mengangguk. “Aku bisa lihat.”
Ia tidak marah. Tapi ada jarak yang tak bisa ia jelaskan. Perasaan campur aduk antara memahami dan terluka.
“Aku nggak mau kamu merasa tersisih,” kata Bintang pelan.
Bulan menatapnya lama. “Yang aku takutkan bukan tersisih. Yang aku takutkan adalah kamu lupa kalau ada yang sudah memanggilmu Ayah lebih dulu di rumah ini.”
Kalimat itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Bintang terdiam.
Hari-hari berikutnya menjadi latihan keseimbangan. Bintang belajar membagi waktu. Anak itu mulai merasa nyaman. Anak Bulan mulai bertanya.
“Kenapa dia juga panggil Ayah?”
Gempur Rokok Illegal--
Bulan menunduk sebentar sebelum menjawab, “Karena memang begitu kenyataannya.”
Anak-anak sering kali lebih mudah menerima daripada orang dewasa.
Namun bagi Bulan, ujian terbesarnya bukan pada anak itu. Melainkan pada dirinya sendiri—mampukah ia menerima kehadiran yang akan selalu mengingatkannya pada luka lama?
Suatu malam, saat Bintang tertidur, Bulan duduk sendirian di ruang tamu. Ia menyadari satu hal: kata “Ayah” tidak bisa dibagi dua. Ia hanya bisa diperluas.
Dan memperluas hati bukan perkara mudah.
Tapi jika ada yang harus ia pelajari dari semua ini, adalah bahwa anak itu tidak memilih dilahirkan dalam rumitnya keputusan orang dewasa.
Yang bisa ia pilih hanyalah satu hal: