BACA JUGA:Drama Tumbler Berbuah Surga
Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan mengapa tertawa kini dijual dalam tabung, melainkan mengapa tertawa alami terasa semakin mahal. Mengapa jeda harus dibeli. Mengapa begitu banyak orang menjalani hidup seolah hanya menunggu waktu berlalu, bukan menunggu keadaan membaik.
BACA JUGA:Alam Berduka, Bandung Membara
Suatu hari, pink tabung bisa saja menghilang. Dilarang. Dilupakan. Digantikan tren lain. Namun selama hidup tetap menekan dengan cara yang sama, kebutuhan akan pelarian tidak akan ikut hilang. Ia hanya akan berubah bentuk, mungkin menjadi lebih sunyi, mungkin juga lebih berbahaya.
BACA JUGA:Barcode untuk Polisi Nakal
Dan di situlah kegelisahan yang seharusnya kita bicarakan. Bukan tentang tabungnya, melainkan tentang kenyataan bahwa semakin banyak orang membutuhkan tawa instan hanya untuk memastikan mereka masih sanggup menjalani hari ini.
BACA JUGA:Operasi Lilin dan Dosa Tahunan
Mungkin suatu hari pink tabung itu tidak lagi terlihat. Ia dilarang, dilupakan, atau tergantikan oleh cara lain yang lebih rapi. Namun selama hidup tetap terasa berat, selama jeda masih harus dicari sendiri, selama tertawa alami terasa semakin mahal, orang akan terus menemukan cara untuk menunda lelahnya.
BACA JUGA:Sekali Isap, Langsung Narkotika
Dan ketika itu terjadi, yang seharusnya kita tanyakan bukan ke mana perginya tabung-tabung itu, melainkan ke mana perginya rasa ringan yang dulu membuat tertawa tidak perlu dibeli.