Gempuran Gepeng Jelang Lebaran, Sosiolog: Jadi Tradisi dan Pekerjaan Musiman
Sucahyo Tri Budiono.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Menjelang Hari Raya Idulfitri, pemandangan sudut-sudut kota metropolis berubah. Gempuran gelandangan dan pengemis (gepeng) seolah menjadi tamu rutin. Mereka kerap turun menghiasi trotoar hingga lampu merah.
Menanggapi fenomena ini, Sosiolog dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Sucahyo Tri Budiono, menilai fenomena ini bukan lagi sekadar masalah ekonomi, melainkan sudah mengakar menjadi tradisi.
BACA JUGA:Data Gepeng di Liponsos Keputih Stabil, Mayoritas Berasal dari Luar Surabaya

Mini Kidi Wipes.--
Menurut pria yang akrab disapa Cahyo ini, pergerakan para gepeng di momen Ramadan telah bertransformasi menjadi profesi yang terorganisir secara kultural.
"Meminta-minta jelang Lebaran kini telah menjadi pekerjaan musiman dan tradisi orang lokal," ujarnya, Senin, 2 Maret 2026.
Ia melihat adanya pergeseran makna. Dari yang semula merupakan bentuk ketidakberdayaan, kini menjadi strategi untuk meraup keuntungan di tengah kemurahan hati masyarakat.
BACA JUGA:Antisipasi Gepeng Dadakan Jelang Lebaran, Satpol PP Kota Surabaya Pertebal Penjagaan dan Patroli

Gempur Rokok Illegal--
Cahyo membedah fenomena ini melalui dua sudut pandang. Yakni, adanya daya tarik dan daya dorong. Menurutnya, kedua faktor ini bertemu di satu titik temu. Alhasil menciptakan fenomena gepeng musiman.
Ramadan, kata Cahyo, secara alami menjadi momen berbagi. Tingkat belas kasih masyarakat yang meningkat drastis menjadi magnet kuat bagi para gepeng untuk turun ke jalan. Lalu adanya mentalitas instan untuk meminta-minta tanpa harus bekerja keras.
"Ada daya tarik dan daya dorong. Daya tarik lantaran Ramadan menjadi momen berbagi, sehingga kemauan masyarakat berbelas kasih lebih tinggi. Sedang daya dorongnya itu mentalitas kaum marginal untuk minta-minta," jelas Cahyo.
BACA JUGA:Kinerja Satpol PP Jombang Disorot, Gepeng Masih Marak di Perempatan Jalan
Lebih lanjut, Cahyo menekankan bahwa hadirnya gepeng secara masif merupakan cermin dari kurang kuatnya upaya pemerintah dalam membenahi Sumber Daya Manusia (SDM). Ia menilai, penertiban di jalanan (hilir) tidak akan efektif jika mentalitas (hulu) tidak disentuh.
Sumber:




