Data Gepeng di Liponsos Keputih Stabil, Mayoritas Berasal dari Luar Surabaya
UPTD Liponsos Keputih. --
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Data keluar masuk gepeng di UPTD Liponsos Keputih secara umum angkanya stabil, tidak ada kenaikan maupun penurunan yang signifikan.
Kepala UPTD Liponsos Keputih, Didik Dwi Winarno, mengungkapkan bahwa pihaknya masih menerima kiriman gelandangan dan pengemis (gepeng) hasil razia Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya. Mereka yang terjaring berasal dari berbagai daerah, tidak hanya warga Surabaya, tetapi juga dari Madura, Jember, Pasuruan, Lamongan hingga Jawa Barat.
BACA JUGA:Bolos Sekolah di Warkop, Lima Pelajar Surabaya Dibawa ke Liponsos

Mini Kidi Wipes.--
Didik menjelaskan, para gepeng yang terjaring akan menjalani sanksi sosial sesuai ketentuan. Untuk pelanggaran pertama, mereka dikenai sanksi sosial selama 3 hingga 5 hari. Jika tertangkap untuk kedua kalinya, masa sanksi bertambah menjadi 5 sampai 10 hari. Sedangkan bagi yang sudah tiga kali terjaring, masa pembinaan bisa mencapai 10 hari hingga satu bulan.
“Setelah masa pembinaan selesai, mereka wajib dijemput oleh pihak keluarga,” ujar Didik.
Apabila gepeng berasal dari luar kota atau tidak membawa identitas, petugas akan berkoordinasi dengan dinas sosial daerah asal serta Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Selanjutnya, mereka akan diserahkan ke dinas sosial masing-masing daerah untuk penanganan lebih lanjut.
BACA JUGA:Nasib Bocah Pencuri Kotak Amal, Tidak Ditahan Kini Diserahkan ke Liponsos untuk Dibina

Gempur Rokok Illegal--
Didik menambahkan, pihaknya tidak mengetahui secara pasti moda transportasi yang digunakan para gepeng untuk datang ke Surabaya. Namun, umumnya mereka menumpang kendaraan umum. Motif mereka mengemis pun beragam, mayoritas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ia mencontohkan kasus pengemis di kawasan Wonokromo beberapa waktu lalu. Setelah diamankan dan dibawa ke Liponsos, yang bersangkutan sempat diberi modal usaha dan dicarikan pekerjaan. Namun karena enggan bekerja, akhirnya kembali memilih mengemis. Padahal, secara ekonomi keluarganya tergolong cukup dan masih memiliki orang tua yang bisa menopang hidupnya.
“Setiap orang punya karakter berbeda. Ada yang benar-benar karena faktor ekonomi, ada juga yang karena kebiasaan dan memilih jalan pintas,” jelasnya.
BACA JUGA:Antisipasi Gepeng Dadakan Jelang Lebaran, Satpol PP Kota Surabaya Pertebal Penjagaan dan Patroli
Selain itu, ada pula sejumlah pengemis dari Madura yang datang ke Surabaya menggunakan bus melalui Jembatan Suramadu. Mereka biasanya berpencar di sejumlah titik. Saat terjaring razia di lokasi berbeda, mereka kembali dipertemukan di Liponsos Keputih.
Sumber:




