Ia tidak merasa sedang memilih, karena ia mencoba mempertahankan keduanya. Padahal, dalam pernikahan, tidak memilih pun adalah sebuah pilihan.
“Aku nggak mau kehilangan kamu,” akhirnya Bintang berkata.
Bulan menatapnya lama. “Kehilangan itu terjadi bukan saat orang pergi. Tapi saat kamu terus-menerus membuatnya merasa tidak cukup.”
Sunyi kembali turun di antara mereka.
Bulan tidak mengancam. Ia tidak meminta Bintang berhenti berteman. Ia hanya berdiri, lalu berkata, “Kalau kamu mau bertahan, kamu harus berhenti lari.
Selesaikan dengan aku, bukan dengan dia. Kalau tidak, aku akan berhenti menunggu kamu memilih.”
Malam itu Bintang tidak pergi. Ponselnya bergetar beberapa kali dengan nama yang sama seperti biasa, tapi untuk pertama kalinya ia tidak menjawab.
Karena akhirnya ia paham, cinta pertama mungkin meninggalkan kenangan, tetapi pernikahan menuntut keputusan.
Dan bagi Bulan, harga dirinya lebih penting daripada menjadi opsi kedua dalam hidup suaminya.
Cerita ini tidak berakhir dengan kepastian bahagia. Ia berakhir dengan satu batas yang jelas: dalam pernikahan, tidak ada ruang untuk menjadi pilihan cadangan.