Bulan mulai berhenti bertanya. Ia sadar, yang paling menyakitkan bukan keberadaan Berlian, melainkan fakta bahwa suaminya tidak pernah menjadikan rumah sebagai tempat kembali saat badai datang.
Suatu malam, Bulan berkata dengan suara yang sangat tenang, “Aku tidak takut kamu jatuh cinta pada orang lain. Aku takut kamu lebih nyaman menyelesaikan hidupmu tanpa aku.”
Bintang menoleh cepat. “Kamu lebay.”
Bulan tersenyum tipis. “Kalau aku lebay, kenapa kamu selalu pergi setiap kali aku bicara?”
Untuk pertama kalinya, Bintang tidak punya jawaban cepat. Ia sadar, setiap masalah yang ia hindari tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menumpuk, menunggu waktu untuk runtuh.
Dan Berlian, yang selama ini menjadi tempat pelarian, tidak pernah benar-benar meminta apa-apa. Ia hanya ada. Mendengarkan. Menguatkan. Tanpa tanggung jawab atas konsekuensi yang lahir dari setiap nasihatnya.
Bintang baru memahami sesuatu yang sederhana tapi terlambat: rumah bukan tempat yang selalu nyaman. Kadang ia penuh suara, penuh gesekan. Namun jika setiap kali terjadi gesekan ia memilih pergi, maka yang ia bangun bukanlah pernikahan melainkan kebiasaan lari.
Bulan tidak pernah melarang Bintang berteman. Ia hanya ingin satu hal yang jauh lebih sederhana: ketika ada masalah, jangan cari telinga lain sebelum mencoba memperbaikinya di rumah.
Karena sekali seseorang terbiasa menjadikan orang lain sebagai tempat aman, rumah perlahan berubah menjadi tempat singgah.
Dan pernikahan yang dipenuhi kebiasaan lari, pada akhirnya tidak runtuh karena orang ketiga, tetapi karena dua orang yang berhenti berjuang di ruang yang sama.