“Citra itu penting.”
Ia belajar mengalah.
Menyimpan perasaan.
Menyebut dirinya sendiri sebagai bagian yang harus disembunyikan.
Setiap kali melihat berita tentang suaminya tentang prestasi, tentang kesuksesan, tentang kehidupan pribadi yang disebut masih sendiri
dadanya sesak, tapi bibirnya tetap diam.
Bukan karena ia tak ingin diakui, melainkan karena ia diajari bahwa pengakuan adalah kemewahan yang belum tentu pantas ia minta.
Yang paling melelahkan bukanlah rahasia itu sendiri, melainkan hidup di dalam kebohongan yang terus dipelihara.
Ia harus tersenyum ketika orang bertanya,
“Kapan Mas Bintang menikah?”
Padahal jawabannya sudah ada hanya saja tak boleh diucapkan.
Di rumah, ia istri.
Di depan dunia, ia tidak ada.
Dan di titik itulah ia mulai sadar:
perkawinan yang disembunyikan
bukan sekadar soal privasi atau strategi citra.