Jam makan menyesuaikan jadwalnya.
Libur keluarga menunggu mood-nya.
Dan ketika Intan akhirnya memberanikan diri bicara tentang rindu, tentang kesepian, tentang jarak yang makin nyata. Bintang hanya menghela napas panjang.
“Kamu harusnya bangga. Aku melakukan ini buat kita.”
Kalimat itu terdengar mulia.
Tapi bagi Intan, itu seperti palu yang memecah harapan.
Karena “buat kita” tak lagi terasa seperti “bersama”.
Di malam-malam sepi, Intan mulai bertanya pada dirinya sendiri:
apakah ia masih istri,
atau hanya penonton dari seseorang yang sedang jatuh cinta pada dirinya sendiri?
Dan Bintang, tanpa sadar, sedang menanam benih yang kelak akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar kesibukan:
rasa berhak untuk selalu dimengerti,
tanpa pernah belajar memahami.