Terpaksa Rujuk demi Gono Gini: Saat Rumah Tak Lagi Rumah (3)

Sabtu 24-01-2026,09:00 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Ferry Ardi Setiawan

HARI demi hari berlalu. Rumah itu tetap berdiri, tapi jiwa-jiwa yang menghuninya tak lagi saling menyapa dengan hati. Rujuk yang semula dianggap sebagai penyelamat ternyata hanyalah penunda kehancuran.

Bulan bangun pagi seperti biasa, menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Bintang duduk di ruang kerja, membuka spreadsheet laporan keuangan. Mereka tak lagi bertengkar bukan karena damai, tapi karena tak ada energi lagi untuk bicara.


Mini Kidi--

Ayla, anak mereka, mulai menyadari kehampaan itu. Ia melihat orang tuanya saling menghindar, saling pura-pura. Suatu malam, Ayla bertanya lirih di depan ibunya yang sedang menyiapkan seragam sekolah.

“Mama… kenapa Mama sama Papa gak pernah peluk-pelukan kayak dulu?”

Pertanyaan itu seperti anak panah yang tepat mengenai jantung Bulan. Ia hanya bisa memeluk Ayla dan berkata, “Karena pelukan bukan cuma soal dekat, sayang. Tapi soal kejujuran hati.”

Hubungan itu makin rapuh ketika surat dari pengadilan akhirnya datang gugatan dari rekan usaha Bintang. Ternyata, selama “pemulihan” rumah tangga ini, bisnis mereka justru retak karena ketidaksepakatan hak kepemilikan yang tak pernah benar-benar selesai.

Bulan lelah. Ia lelah bermain peran sebagai istri yang tampak “rujuk”, padahal batinnya makin terkikis.

Suatu malam, ia menatap Bintang dalam-dalam.

“Mas… ini bukan rumah lagi. Ini hanya bangunan yang kita isi demi gengsi dan ketakutan kehilangan aset.”

Bintang menatapnya tajam. “Kamu mau cerai lagi, hanya karena ini gak seperti dongeng?”

“Bukan. Karena aku sadar, kita rujuk bukan untuk cinta. Kita kembali hanya karena takut kalah. Tapi ternyata… kita tetap kalah. Kalah sebagai pasangan. Kalah sebagai orang tua yang membohongi anak. Kalah sebagai manusia yang tak jujur pada diri sendiri.”

Bintang tak menjawab. Di dalam hatinya, ia tahu semua itu benar. Ia hanya terlalu gengsi untuk mengaku.

Esoknya, Bulan mengemasi pakaian. Kali ini tanpa tangis. Ia tak ingin Ayla melihat ibunya sebagai perempuan yang lelah, tapi sebagai perempuan yang berani memilih jujur pada hidupnya.

Di depan pintu, ia berkata pelan:

Kategori :