PERNIKAHAN Bintang dan Bulan sudah di ujung tanduk. Tiga bulan lalu, keduanya resmi bercerai setelah bertahun-tahun hidup dalam rumah yang hanya dipenuhi pertengkaran dan keheningan. Tak ada lagi pelukan, apalagi percakapan hangat. Anak semata wayang mereka, Ayla, jadi satu-satunya alasan mereka masih saling bertemu.
Namun perceraian mereka bukan akhir dari cerita. Justru menjadi awal dari perhitungan yang lebih pelik: soal harta bersama.
Mini Kidi--
Bulan, yang selama bertahun-tahun ikut membangun bisnis kuliner bersama Bintang, merasa berhak atas separuh aset. Apalagi selama ini ia juga yang mengatur keuangan, membesarkan anak, bahkan ikut mengajukan pinjaman demi pengembangan usaha. Tapi Bintang tak terima.
“Bulan nggak berhak atas resto. Nama usaha itu atas namaku semua!” bentak Bintang saat mediasi.
Bulan mendengus. “Tapi aku yang urus semua. Dari modal awal sampai cabang terakhir, kamu sendiri tahu siapa yang kerja siang malam.”
Mediasi pun buntu. Bintang, yang mulai khawatir hartanya dibagi rata, diam-diam menemui keluarganya.
“Kalau sampai pengadilan memutuskan pembagian aset, bisa rugi besar,” ujar kakaknya, yang juga pengacara.
Lalu datanglah satu ide yang tak pernah terpikirkan sebelumnya: mengajak rujuk.
Beberapa minggu kemudian, Bintang mendatangi rumah Bulan. Membawa oleh-oleh, senyum, dan ucapan maaf. “Aku banyak salah, Bulan. Aku rindu kamu… rindu rumah ini.”
Bulan curiga. “Setelah semua ini, kamu datang cuma bilang rindu?”
Bintang menunduk. “Aku tahu aku salah. Tapi… demi Ayla, mungkin kita bisa mulai dari awal.”
Bulan gelisah. Ia masih menyimpan luka. Tapi di sisi lain, pikirannya melayang pada satu hal: Ayla yang makin murung, dan aset usaha yang masih dipersengketakan. Ia bukan perempuan naif, tapi ia juga bukan perempuan yang tak berpikir praktis.
“Kita rujuk… tapi kamu tahu alasannya. Bukan karena cinta. Tapi demi menyelamatkan semuanya,” ujar Bulan datar.
Bintang mengangguk. “Ya. Demi Ayla… dan demi yang sudah kita bangun.”