"Kalau ujung persoalannya ada di pembinaan, ya itu harus dievaluasi. Bukan hanya orangnya, tapi juga sistemnya," imbuhnya.
BACA JUGA:Komisi B DPRD Surabaya Dorong Regulasi Tegas Rumah Pemotongan Unggas
Sementara itu, pembina pedagang Pasar Keputran Selatan Hafid menyampaikan keluhan pedagang yang selama ini merasa kerap disalahkan, terutama terkait penertiban Pedagang Kaki Lima.
"Kami tidak pernah menyuruh PKL dibongkar. Kami hanya ingin jualan tenang. Jangan kami diadu-adu," keluh Hafid.
Selain persoalan relokasi, pedagang juga mengeluhkan minimnya fasilitas dasar, terutama ketersediaan air bersih. Mayoritas pedagang unggas di Pasar Keputran Selatan sangat bergantung pada pasokan air untuk aktivitas jual beli sehari-hari.
"Di sini tidak ada air. Selama ini kami pakai sumur bor lama, tapi debitnya kecil. Kalau dipakai bareng-bareng langsung mati. Akhirnya banyak pedagang terpaksa beli air sendiri untuk jualan," ungkapnya. (alf)