Di tengah badai itu, sekolah mengundang konselor anak dan membuat program literasi digital serta edukasi tentang grooming dan online safety. Intan diminta membacakan puisinya di akhir acara.
Dengan suara pelan tapi mantap, ia membaca:
“Aku tidak ingin jadi korban yang diam.
Aku bukan boneka di layar sunyi.
Aku punya suara.
Dan kini, aku memilih bicara.”
Tepuk tangan bergema di aula kecil itu. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Intan tersenyum tulus.