Bulan tidak langsung marah. Ia memilih diam. Tapi dalam diamnya, ia menyusun langkah.
Di satu malam yang hening, Bulan menyodorkan dua cangkir teh ke Bintang. “Aku tahu kau gak nginap di hotel yang kau bilang. Aku tahu kau gak sendirian di Bali.”
Bintang terdiam. Tak ada pembelaan. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar.
“Aku gak butuh penjelasan malam ini,” lanjut Bulan. “Aku hanya ingin tahu… kau masih ingin memperjuangkan rumah ini atau tidak?”
Bintang menunduk. Hatinya remuk. Ia tahu tak bisa menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.
“Aku… butuh waktu,” jawabnya pelan.
Bulan menatapnya lama. “Ambil waktu itu, Mas. Tapi ingat… yang kita bangun bertahun-tahun bisa hancur dalam satu keputusan egois. Aku masih di sini. Tapi aku gak akan berdiri sendiri selamanya.”
Dan malam itu, Bintang tidur di sofa. Bukan karena Bulan mengusirnya. Tapi karena ia merasa tak pantas berada di samping wanita yang hatinya telah ia khianati.