BMKG Nganjuk Jelaskan Penyebab Cuaca Ekstrem dan Panas Terik di Indonesia

Selasa 14-10-2025,22:32 WIB
Reporter : Iskandar Zulkarnain
Editor : Ferry Ardi Setiawan

NGANJUK, MEMORANDUM.CO.ID - Cuaca panas yang menyengat dalam beberapa pekan terakhir dirasakan di berbagai wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi ekstrem tersebut terjadi. Selasa 14 Oktober 2025.

BACA JUGA:Kapolres Nganjuk Jalin Sinergi dengan Forkopimcam dan Kades se-Kecamatan Baron untuk Perkuat Harkamtibmas

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, salah satu penyebab utama cuaca panas ekstrem adalah pergeseran semu matahari ke arah selatan. Fenomena ini menyebabkan menurunnya tutupan awan, sehingga radiasi sinar matahari langsung lebih intens menyentuh permukaan bumi.


Mini Kidi--

“Kenapa terasa makin panas? Pertama, karena tutupan awan sangat minim, sinar matahari menembus langsung tanpa hambatan,” ujar Dwikorita dalam keterangannya.

BACA JUGA:Ngopi Bareng Bahas Kamtibmas, Polres Nganjuk Perkuat Sinergi Jajaran

Selain itu, radiasi matahari yang meningkat juga berperan besar, terutama di wilayah daratan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Ketiga wilayah ini menjadi yang paling terdampak karena memiliki intensitas penyinaran tinggi serta suhu permukaan yang cenderung lebih panas.

BACA JUGA:Kapolres Nganjuk Sapa Kades se-Kecamatan Prambon untuk Perkuat Harkamtibmas dan Program Desa Tangguh Pangan

BMKG juga mencatat bahwa saat ini Indonesia sedang memasuki masa pancaroba, yaitu transisi dari musim kemarau menuju musim hujan. Pada masa ini, cuaca sering berubah-ubah dan tidak stabil, dengan suhu yang bisa melonjak pada siang hari dan hujan lokal pada sore hingga malam hari.

BACA JUGA:Polres Nganjuk Intensifkan Patroli SREG Jaga Kondusivitas Akhir Pekan

“Pancaroba ditandai dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Selain suhu udara yang meningkat, potensi hujan deras dan angin kencang juga bisa muncul secara tiba-tiba,” jelas Dwikorita.

BACA JUGA:Dinas PPKB Nganjuk Sosialisasikan Aplikasi SIRIKA untuk Penguatan Layanan KB

Selain itu, fenomena La Nina lemah yang mulai berkembang juga diprediksi akan memengaruhi pola cuaca dalam beberapa bulan ke depan, dengan potensi peningkatan curah hujan mulai November 2025 hingga awal 2026.

BACA JUGA:Gelar Wayang Kulit Semalam Suntuk, Pemkab Nganjuk dan Kodim 0810 Rayakan HUT Ke-80 TNI

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondisi tubuh, menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama, serta memperbanyak konsumsi air putih. Masyarakat juga diminta untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG. (isk)

Kategori :