Pesulap Jalanan, Teater, dan Hilman dari Universitas Negeri Surabaya
Hilman mahasiswa Sastra Jerman Unesa saat menunjukkan aksi sulap kartu kepada pengunjung di trotoar Jalan Tunjungan Surabaya--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Hilman yang merupakan mahasiswa jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memilih profesi unik sebagai pesulap jalanan di kawasan Jalan Tunjungan pada pukul 20.00 hingga 23.00.
Panggung yang digunakan sangat sederhana yakni trotoar dengan lampu jalan serta properti utama berupa setumpuk kartu remi untuk menghibur orang yang kebetulan lewat.
BACA JUGA:Fenomena Drama Cina, Oase bagi Rakyat di Tengah Himpitan Ekonomi
Cara kerjanya cukup dengan menghampiri orang lalu meminta izin melakukan aksi sulap sembari direkam untuk kebutuhan konten di media sosial.

Mini Kidi Wipes.--
Hilman tidak mematok tarif atau menyediakan kotak uang karena fokus utamanya adalah mengumpulkan reaksi penonton sebagai bahan cerita digital.
Keunikan aksi tersebut terletak pada penerapan unsur teater yang dipelajarinya di kampus melalui latihan peran, pembacaan naskah, hingga pengaturan gestur tubuh.
BACA JUGA:Tips Menanam Sayuran Agar Tetap Subur Meski Jarang Disiram Saat Cuaca Panas
Insting panggung yang dimiliki membuatnya tahu kapan harus diam sejenak atau membangun suasana agar penonton merasa penasaran dengan rahasia di balik kartunya.
Dalam dunia teater teknik ini disebut membina puncak, sedangkan dalam sulap jalanan tujuannya adalah menangkap perhatian penonton dalam lima detik pertama.
Ia sering memulai aksi dengan candaan kecil atau pura-pura gagal untuk menahan orang agar tetap berhenti dan melihat pertunjukan hingga selesai.
Bagi Hilman trotoar Tunjungan merupakan panggung alternatif tanpa tiket maupun tirai namun tetap menjadi tempat bermain ilusi yang nyata.

Gempur Rokok Ilegal -----
Sebagai anak teater ia tidak mempedulikan besar atau kecilnya panggung selama masih ada penonton yang terkesan dengan aksinya.
Tantangan panggung jalanan yang tidak terduga seperti godaan dari pengamen seringkali dihadapi dengan senyuman santai sebagai bagian dari dinamika lapangan.
Pertunjukan ini akan terus berjalan selama masih ada masyarakat yang merasa terhibur dengan permainan kartu yang disajikannya di ruang publik.
Sumber:







