Teladani Spirit Bung Karno, Ketua DPRD Surabaya Dorong Ketahanan Pangan Melalui Pertanian Kota

Teladani Spirit Bung Karno, Ketua DPRD Surabaya Dorong Ketahanan Pangan Melalui Pertanian Kota

Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono saat panen komoditas pertanian di Tambak Wedi, Kenjeran, beberapa hari lalu.--

"Selain jagung yang menjadi komoditi utama di Tambak Wedi, juga baru-baru ini ditanam pisang Carvendish,” jelas Mundu. 

BACA JUGA:Belum Kantongi Rekomendasi Dinas, DPRD Surabaya Minta Pengembang Alana Gunung Sari Tunda Serah Terima Unit

Adi Sutarwijono, yang turut hadir dan ikut memanen ubi ketela, memberikan dukungan penuh. Dibantu Suyono, Ketua Kelompok Tani "Nandur Makmur", Adi mencoba  mencabut ketela jenis ubi pulut dari tanah. Didampingi  Wiyono, Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Kenjeran. Ibu-ibu yang lain menikmati pisang dan lombok.

"Saya memberikan dukungan untuk pemanfaatan lahan yang ada. Semua hasil, minimal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga," katanya di sela-sela kegiatannya. 

Gerakan ketahanan pangan ini dijalankan langsung oleh masyarakat. Kelompok Tani “Nandur Makmur” terdiri dari lima orang. Suyono, sang ketua kelompok tani, mengaku bahwa bertani adalah panggilan jiwa yang diwarisinya. 

BACA JUGA:Koperasi Merah Putih Rawan Penyimpangan, DPRD Surabaya: Pengurus Terpilih Harus Profesional dan Amanah

"Saya menjadi petani. Asli. Keluarga saya adalah petani, dan saya generasi ketiga," tuturnya bangga.

Inovasi tak berhenti di situ. Di lahan yang sama, Pipit, seorang peternak magot, memanfaatkan sisa-sisa organik dari hasil pertanian untuk pakan ternaknya. 

"Kami manfaatkan sisa-sisa makanan, seperti buah mangga, waluh. Terima kasih kepada Walikota Eri Cahyadi atas kebijakannya," ucap Pipit.

BACA JUGA:Tiga Kali Mangkir, Pengelola Apartemen 88 Avenue Kembali Dipanggil DPRD Surabaya Terkait Tunggakan Pajak

Menurut Adi, pertanian di Surabaya telah berevolusi. Tidak lagi hanya terpaku pada pola tradisional, tetapi berkembang menjadi urban farming yang variatif, seperti hidroponik, akuaponik, kebun atap (rooftop garden), dan kebun vertikal untuk menyiasati lahan terbatas. 

"Sekarang berkembang urban farming yang diolah sesuai ketersediaan lahan, seperti hidroponik, aquaponik, rooftop garden, dan kebun vertikal," jelas Adi.

Semua hasilnya, kata dia, minimal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti sawi, kangkung, lombok dan sebagainya yang cocok dengan kondisi lingkungan. 

BACA JUGA:DPRD Surabaya Sindir Kebijakan Parkir Wali Kota Eri: Sudah Bayar Pajak, Pengusaha Malah Ditekan

“Saya memberikan dukungan untuk pemanfaatan lahan yang ada,” pungkasnya.(alf)

Sumber:

Berita Terkait