Jelang Ramadan, Tradisi Anak-anak Main Meriam Spirtus ‘Seldung’ Marak di Situbondo
Anak-anak bermain meriam spirtus atau seldung di areal persawahan Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Kota, Situbondo.-Fatur Bahri-
SITUBONDO, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Menjelang bulan suci Ramadan, tradisi bermain meriam spirtus atau “seldung” kembali marak di Situbondo. Anak-anak memanfaatkan area persawahan hingga bantaran sungai untuk memainkan permainan tradisional tersebut, Selasa 17 Februari 2026.
BACA JUGA:Sidak Pasar Jelang Ramadan di Situbondo, Harga Cabai Rawit Tembus Rp80 Ribu
Meriam spirtus atau seldung umumnya dibuat dari kaleng bekas susu yang disusun, dilem, lalu diperkuat dengan isolasi di setiap sambungan. Sebagian lainnya menggunakan pipa paralon bekas dengan pemicu dari magnet korek api, sementara suara dentuman dihasilkan dari cairan spirtus.

Mini Kidi--
Pantauan di lapangan, anak-anak berusia antara 10 hingga 14 tahun tampak bermain di areal persawahan Kelurahan Dawuhan serta di sepanjang aliran sungai wilayah Kota Situbondo.
Tradisi ini tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari semangat anak-anak dalam menyambut datangnya Ramadan.
“Pada bulan Ramadan, saya bersama teman-teman bermain seldung sambil menunggu waktu berbuka puasa. Kalau sekarang hanya untuk hiburan saja,” ujar Farhan (13) saat ditemui di Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Kota, Situbondo.
Hal senada disampaikan Riski (11). Ia mengatakan, saat Ramadan tiba, area persawahan dan bantaran sungai di Situbondo biasanya dipadati anak-anak yang bermain seldung pada sore hari.
“Biasanya kami bermain sore menjelang berbuka puasa sambil menunggu waktu magrib,” katanya.
Sementara itu, Aldo Maulana (15), warga Kelurahan Dawuhan, mengaku awalnya membuat seldung untuk digunakan sendiri. Namun, karena banyak teman sekolah yang tertarik, ia pun mulai membuatnya untuk dijual.
“Kalau bahannya lengkap seperti kaleng bekas, setiap hari saya bisa membuat lima seldung. Saya jual seharga Rp 25 ribu per buah,” ujarnya.
Menurut Aldo, cara pembuatannya cukup sederhana selama bahan tersedia. Ia biasanya memanfaatkan kaleng susu bekas dan botol air mineral sebagai bahan utama.
Sumber:



