Waspada Demam Berdarah di Surabaya, Cegah Sebelum Terlambat

Waspada Demam Berdarah di Surabaya, Cegah Sebelum Terlambat

Pakar Spesialis Anak Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Dwiyanti Puspitasari DTM&H MCTM SpA (K). -Arif Alfiansyah-

SURABAYA, MEMORANDUM - Kasus demam berdarah (DBD) di Surabaya sedang mengalami peningkatan dan menjadi kekhawatiran bagi masyarakat, terutama orang tua dengan anak kecil. DBD dapat menjadi penyakit serius bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

BACA JUGA:Kasus DBD di Surabaya Terus Meningkat, hingga April Tercatat 128 Kasus

Pakar Spesialis Anak Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Dwiyanti Puspitasari DTM&H MCTM SpA (K) menjelaskan, bahwa DBD disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti.

BACA JUGA:Lindungi Diri dari DBD: Perlukah Vaksin Demam Berdarah?

 

Dr Dwiyanti menjelaskan, demam berdarah akan diawali dengan peningkatan suhu bahan yang drastis berlangsung pada 3-5 hari. Umumnya, pada hari ke-6, pasien akan mengalami penurunan suhu tubuh, namun pada fase tersebut belum dapat dinyatakan pasien sembuh.

BACA JUGA:Waspadai DBD! Kenali 6 Gejalanya dan Segera Cari Pertolongan Medis

 

Penurunan demam itu merupakan fase yang krusial atau kritis. Pada fase tersebut, pasien harus mendapatkan perhatian khusus, terutama pada kasus demam berdarah yang berat. Biasanya, pasien akan mengalami rasa dingin di seluruh tubuh, pendarahan, dan bila fatal dapat menyebabkan kematian.

BACA JUGA:Musim DBD? Simak 5 Tips Jitu Menghindari Penyakit Mematikan Ini! 

Namun, pada fase itu, pasien dengan demam berdarah ringan akan berangsur membaik pada 3-7 hari mendatang dan masuk pada fase penyembuhan.

BACA JUGA:Tekan DBD dengan Menyebarkan Nyamuk Wolbachia, Guru Besar Unair Beri Tanggapan 

“Fase-fase tersebut harus dipahami betul untuk mengatasi hal yang tak diinginkan selama terjangkit demam berdarah,” tuturnya.

BACA JUGA:Kadinkes Minta Lurah dan Camat Gerakkan Masyarakat Waspadai DBD  

Dr Dwiyanti menyebutkan, tanda utama harus diketahui jika anak terjangkit demam berdarah. Yakni, demam tinggi yang tak kunjung turun. Ia mengimbau apabila sang anak mengalami demam tinggi dan setelah diberikan obat penurun demam tak kunjung reda, hal itu patut dicurigai.

Selain itu, anak yang terjangkit demam berdarah akan mengalami berbagai perubahan. Biasanya, anak akan terlihat lemas dari sebelumnya, mengalami penurunan nafsu makan, mual, nyeri seluruh tubuh dan radang tenggorokan. Gejala tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata harus segera ditangani.

“Para orang tua harus aware ketika sang anak telah mengalami gejala tersebut dengan rentang waktu tiga hari. Jika tidak berangsur membaik segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” katanya.

Tak lupa, dr Dwiyanti memberikan tips pencegahan demam berdarah yang dapat dilakukan. Pertama, dengan menerapkan 3M (menguras, mengubur dan menutup). Langkah tersebut setidaknya dapat mencegah adanya pertumbuhan jentik-jentik dan sarang nyamuk.

BACA JUGA:Masyarakat Harus Waspadai DBD 

“Biasanya yang luput dari masyarakat ini pada genangan yang berada di sekitar rumah, seperti genangan air pada bekas botol minuman kemasan, genangan air pada bawah dispenser dan banyaknya pakaian tergantung. Hal tersebut lengah dari perhatian masyarakat,” imbuhnya.

Dr Dwiyanti menilai, pemberlakuan fogging sebetulnya kurang efektif karena fogging akan hanya membunuh nyamuk-nyamuk dewasa tidak dengan jentik-jentik. Ia menginformasikan, adanya penelitian mengenai nyamuk wolbachia yang dinilai ampuh menurunkan kasus demam berdarah di Yogyakarta.

“Pada dasarnya, nyamuk wolbachia merupakan nyamuk yang telah terinfeksi bakteri wolbachia. Bakteri tersebut akan diturunkan pada keturunan nyamuk lainnya. Hal ini dinilai penyebaran virusnya akan terhambat. Seperti halnya, di Yogyakarta yang berhasil menurunkan kasus demam berdarah dengan program wolbachia,” pungkanya. (*)

Sumber: