Golkar vs Demokrat, Emil Dilirik Masuk Bursa Cagub Jatim
Kepala Bakomstra Demokrat Jatim Muhammad Arbayanto --
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Dinamika politik menuju Pilgub Jawa Timur menghangat setelah candaan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang mengajak Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak bergabung ke Golkar mencuat ke publik, Kamis 18 Februari 2026.

Mini Kidi--
Meski Pemilu dan Pilgub masih tiga tahun lagi, partai politik mulai menebar komunikasi dan membaca peluang koalisi.
Kepala Bakomstra Demokrat Jatim Muhammad Arbayanto menilai pernyataan Bahlil Lahadalia lebih mencerminkan kedekatan komunikasi antar-elite, bukan sinyal perpindahan politik menjelang kontestasi gubernur.
“Relasi personal yang hangat justru menjadi indikator terbukanya ruang koalisi pada pilgub mendatang,” ujar Arbak, sapaan Muhammad Arbayanto.
BACA JUGA:Nelayan Wadul Dewan Kesulitan Dapatkan Solar
Menurutnya, hingga kini peta kandidat masih cair dan belum muncul figur resmi dari Golkar sehingga nama Emil tetap berada dalam radar kuat bursa calon gubernur maupun calon wakil gubernur.
“Fenomena ini menunjukkan Mas Emil adalah figur strategis. Bukan hanya Golkar, tetapi banyak partai tentu membangun komunikasi karena melihat peluang kepemimpinan ke depan di Jawa Timur,” ujarnya usai menghadiri rapat paripurna DPRD Jatim.

Gempur Rokok Illegal--
Arbak menegaskan tidak ada tanda-tanda Emil akan meninggalkan Demokrat karena sebelumnya Emil menyebut Demokrat sebagai partai pertama dalam perjalanan politiknya dan berpotensi menjadi yang terakhir.
Dalam perspektif lebih luas, Arbayanto menilai kontestasi gubernur mendatang akan ditentukan oleh kesamaan platform pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar perpindahan kader.
BACA JUGA:DPRD Jatim Luncurkan Platform Curhato Nang Dewan di Ajang Pasar Rakyat
“Yang terpenting bagaimana kepemimpinan di Jawa Timur ke depan mampu menghadirkan pembangunan berkelanjutan. Soal partai, itu bagian dari strategi politik yang akan menemukan momentumnya sendiri menjelang pendaftaran,” kata mantan komisioner KPU Jatim tersebut.
Arbak menambahkan, candaan politik yang muncul saat ini menunjukkan kompetisi masih dalam tahap awal dan ruang komunikasi antarelite tetap terbuka.
“Ini soal candaan khas Pak Bahlil. Tidak ada persoalan besar yang membuat Mas Emil harus pindah partai,” pungkasnya. (day)
Sumber:



