Rahmatan Lil 'Alamin di Tengah Liberalisme Geopolitik Global
--
Lebih dari satu tahun terakhir, Gaza mengguncang nurani dunia. Setiap insan di berbagai belahan bumi terpana menyaksikan kekejaman manusia terhadap manusia, bahkan terhadap anak-anak dan perempuan.
Pemerintah di berbagai negara pun menghadapi tekanan publik untuk menjawab isu kemanusiaan, hak asasi manusia, hukum internasional, hingga dilema aliansi pertahanan.

Mini Kidi--
Pertanyaannya, di mana letak kegamangan dunia modern? Apakah pada konsep liberalisme, hak veto, ketergantungan pada negara maju, atau pada kehati-hatian menghadapi kompetisi senjata supercanggih?
Negara-negara liberal menganut kebebasan berpikir dan membuka ruang bagi semua agama, termasuk Islam.
Namun, mereka menolak agama sebagai pengatur negara.
BACA JUGA:Belajar Menghormati dari Akhlaq Nabi Muhammad SAW yang Sunyi
Liberalisme lahir dari perlawanan terhadap dominasi Gereja di Eropa, berkembang sejak era Henry IV di Inggris hingga Revolusi Industri.
Islam diterima sebagai agama, tetapi kekuasaan politik Islam dianggap mengancam ideologi liberal.
Karena itu, negara liberal lebih nyaman beraliansi sesama penganut liberalisme, bahkan ketika negara sekutunya melanggar prinsip kebebasan dan HAM yang mereka agung-agungkan.
Kekuatan liberalisme global kian kokoh karena ditopang hegemoni Amerika Serikat.
BACA JUGA:Indonesia dan Keberkahan Perjuangan
Negeri ini memegang hak veto di PBB, membiayai lembaga riset dan universitas terkemuka, serta melindungi inovasi teknologi seperti chipset agar tak ditiru negara lain.
Dengan lebih dari 800 pangkalan militer di titik strategis dunia, Amerika menegaskan posisinya sebagai kekuatan global yang hampir tak tertandingi.
Indonesia, sebagai negara demokrasi Pancasila dengan mayoritas penduduk Muslim, berpegang pada politik bebas aktif.
Indonesia menjalin kerja sama dengan berbagai negara, tanpa terikat blok mana pun. Posisi ini memungkinkan Indonesia menegur pelanggaran kemanusiaan di forum-forum internasional seperti PBB.
BACA JUGA:Tumbuhkan Kreativitas, Lomba Desain Batik 2025 Lamongan Dibuka
Namun, keterbatasan kekuatan global membuat Indonesia lebih berperan pada level diplomatik dan moral, bukan dalam bentuk sanksi yang berefek jera.
Lalu, mengapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi kemajuan luar biasa kepada bangsa seperti Amerika?
Dalam tafsir Ibnu Katsir, rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dunia tercermin melalui sifat Ar-Rahman—kasih sayang yang berlaku bagi seluruh makhluk, Muslim maupun non-Muslim.
Sedangkan Ar-Rahiim adalah kasih sayang khusus bagi orang beriman di akhirat.
Dengan demikian, kemajuan bangsa mana pun merupakan manifestasi kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi seluruh umat manusia di bumi.
BACA JUGA:Bupati Lamongan Lantik 95 Pejabat untuk Sukseskan Visi Kejayaan Berkelanjutan
Kita bisa melihat karakter bangsa dari penghargaan mereka terhadap ilmu dan keindahan.
Prancis dikenal dengan kecintaan pada seni dan teknologi.
Jerman terkenal dengan ketelitian dan presisi dalam teknik dan sains.
Inggris unggul dalam perdagangan, pendidikan, dan konservasi keanekaragaman hayati.
Sementara Amerika menunjukkan penghargaan luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, riset global, dan eksplorasi luar angkasa melalui NASA.
BACA JUGA:Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Evaluasi MBG di Lamongan
Kecintaan bangsa Amerika terhadap ilmu pengetahuan dan semesta mungkin menjadi sebab Allah memberikan mereka kekuatan global.
Namun, umat Islam sejatinya memiliki orientasi lebih luas: Rahmatan Lil ‘Alamin — kasih sayang bagi seluruh alam, mencakup manusia, hewan, tumbuhan, bumi, udara, hingga angkasa luar.
Inilah tantangan bagi umat Islam untuk kembali meneguhkan visi global, dengan semangat penelitian, inovasi, dan eksplorasi semesta.
Dari visi Nusantara, menuju Benuantara dan Antara Samudera, hingga dunia dirgantara dan galaksi.
Sudah saatnya umat Islam berpikir dan bertindak global—menyebarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk di alam semesta.
Think Globally, Act Globally, Love Things in Universe.
Oleh: Mu'Isyul Haq Al Hasany Lamongan
Sumber:
