Merasa Salah Jurusan tapi Tetap Berprestasi, Bisa Jadi Itu Impostor Syndrome
Anak salah jurusan menunjukkan prestasi meski menghadapi rasa impostor syndrome.-(sumber foto: freepik)-
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Pernahkah kalian menjumpai seorang teman yang mengatakan bahwa dirinya salah jurusan, namun tetap pinter dan berprestasi?
BACA JUGA:Persiapan SNBP 2026 Lengkap, Cara Cek Peluang Lolos dan Strategi Pilih Jurusan sebelum Deadline
Di sisi lain, ketika mereka ditanya mengapa mereka bisa sejago itu, malah mereka menjawab bahwa hal tersebut hanya sebuah faktor keberuntungan.

Mini Kidi Wipes.--
Mendengarnya mungkin membuat sebagian dari kalian menganggap mereka hanya rendah hati dan tidak mau sombong. Tapi perlu kalian tahu, hal itu bisa saja merupakan perasaan yang benar-benar mereka rasakan.
Impostor syndrome, istilahnya. Di mana seseorang merasa kesuksesan yang mereka raih disebabkan oleh faktor luar seperti keberuntungan atau kebetulan, bukan karena kemampuan atau bahkan hasil kerja keras mereka sendiri.
Impostor syndrome sangat bisa terjadi di anak-anak yang memiliki masalah salah jurusan. Kedua hal tersebut tentu memiliki keterkaitan yang sangat kuat meski tanpa kita sadari.
Hal ini disebabkan oleh anak-anak yang merasa salah jurusan cenderung berpikir bahwa mereka tidak berminat atau tidak mampu di bidang tersebut, hingga akhirnya membuat mereka merasa bahwa sebuah pencapaian hanyalah faktor keberuntungan semata.
Fakta ini tentu makin membuat kalian bertanya-tanya, kan, mengapa jika sudah tahu tidak berminat atau tidak mampu malah tetap memilih jurusan tersebut? Namun, sayangnya, masalah salah jurusan ini tidak sesimpel yang kalian bayangkan.
Ada sebagian anak di luar sana yang bisa dibilang kurang beruntung dalam memilih jurusan pendidikannya. Entah karena memang bingung dengan tujuan hidup, belum menemukan jati diri, atau bahkan ada yang jurusannya sudah ditentukan oleh orang tua mereka.
Dalam kasus pilihan jurusan yang sudah ditentukan oleh orang tua, ada kemungkinan impostor syndrome ini timbul akibat pola asuh orang tuanya.
Pada pola asuh, ada beberapa gaya pola asuh yang berbeda, salah satunya adalah pola asuh otoriter.
Di mana orang tua terlalu berfokus pada sebuah pencapaian, aturan yang ketat, dan penentuan alur hidup anak secara sepihak tanpa adanya diskusi dua arah dengan sang anak.
Niat orang tua mereka mungkin baik, untuk masa depan anaknya. Semisal anak dimasukkan ke dalam jurusan bisnis agar ke depannya bisa langsung bekerja di perusahaan keluarga tanpa perlu repot mencari pekerjaan.
Sumber:







