Efek Domino Fatherless: Dari Kesehatan Mental Anak hingga Masalah Sosial
Seorang ayah mengambil rapor anaknya di sekolah sebagai bentuk keterlibatan pengasuhan.-Lailatul Nur Aini-
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Fenomena minimnya kehadiran ayah dalam tumbuh kembang anak atau fatherless berdampak pada kesehatan mental, kualitas keluarga, hingga memicu masalah sosial seperti pernikahan dini dan perundungan, Selasa, 24 Februari 2026.
BACA JUGA:Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia, Kemendukbangga/BKKBN Luncurkan Program Sidaya di Lamongan
Kondisi tersebut masih menjadi persoalan serius di Indonesia karena memengaruhi perkembangan anak dan kualitas keluarga secara keseluruhan.

Mini Kidi Wipes.--
Plh. Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto, S.E., M.Si, menegaskan bahwa fatherless tidak bisa dipandang sebagai persoalan data semata.
"Fenomena fatherless bukan sekadar statistik, tetapi persoalan sosial yang sangat memengaruhi tumbuh kembang anak," kata Sukamto.
Menurutnya, salah satu penyebab utama krisis peran ayah adalah budaya patriarki yang menempatkan pengasuhan hanya sebagai tanggung jawab ibu.
"Padahal, keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan anak, pendampingan remaja, dan kehidupan keluarga sehari-hari sangat menentukan kualitas generasi ke depan," tuturnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur menjalankan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) sebagai bagian dari program Quick Wins Bangga Kencana.
Program ini mendorong ayah terlibat langsung dalam pengasuhan, mulai dari aktivitas sederhana seperti mengantar anak ke sekolah hingga mendampingi proses belajar. Hingga saat ini, capaian peserta GATI di Jawa Timur telah mencapai 113 persen dari target 395.883 peserta.
Selain itu, Kemendukbangga juga menyelenggarakan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak.
"Melalui ini, kami ingin menghadirkan sosok ayah sebagai teladan di keluarga, bukan hanya sebagai pencari nafkah," pungkas Sukamto.
Pentingnya kehadiran ayah dalam pola asuh anak juga ditegaskan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Konsultan Anak dan Remaja RS Menur, dr. Ivana Sajogo, dr., SpKJ, Subsp.A.R (K).
Menurut dr. Ivana, karakter anak terbentuk dari kombinasi berbagai faktor, yakni temperamen yang dipengaruhi genetik, pola asuh serta nilai-nilai keluarga, hingga lingkungan sekolah dan budaya tempat anak tumbuh.
Sumber:




