Ketika Tertawa Tidak Lagi Gratis
--
HARI ini, tertawa bisa dibeli. Harganya tidak mahal. Bentuknya tabung kecil berwarna cerah. Dijajakan terbuka di sudut-sudut kota, tanpa rasa bersalah, tanpa sembunyi-sembunyi. Orang menghirupnya sebentar, tertawa sebentar, lalu kembali ke hidup yang sama. Bukan karena hidup membaik, melainkan karena hidup terlalu berat untuk dijalani tanpa jeda buatan.
BACA JUGA:Membela Istri Bisa Menggugurkan Jabatan
Fenomena pink tabung tampak sepele. Banyak yang melihatnya sekadar tren, hiburan ringan, atau kenakalan sesaat. Namun dalam masyarakat yang semakin lelah, hal-hal sepele sering kali justru menjadi penanda paling jujur.
BACA JUGA:Ketika Banjir Mencari Bupati
Ia muncul bukan karena orang ingin bersenang-senang, melainkan karena orang kehabisan cara lain untuk merasa lebih ringan. Pink tabung tidak menawarkan kebahagiaan. Ia tidak menjanjikan perubahan. Ia hanya memberi tawa singkat, cukup untuk menunda rasa sesak. Setelah efeknya hilang, hidup berjalan seperti semula. Masalah tetap ada. Beban tidak berkurang. Tetapi hari itu sudah terlewati. Bagi banyak orang, itu sudah cukup.
BACA JUGA:Polisi Mau Pulang ke Mana
Kita sedang hidup di masa ketika kebahagiaan terasa terlalu jauh untuk dikejar. Terlalu mahal. Terlalu rumit. Yang dicari bukan lagi hidup yang ideal, melainkan hidup yang bisa dijalani. Maka tertawa pun tidak perlu datang dari kabar baik. Ia bisa datang dari reaksi instan, selama mampu memberi jeda di antara dua kelelahan. Tekanan itu datang dari berbagai arah. Biaya hidup yang terus meningkat. Pekerjaan yang tidak selalu memberi rasa aman. Kota yang semakin padat dan bising.
BACA JUGA:Burung Besi Itu Kalah di Bulusaraung
Arus informasi yang tak pernah berhenti membawa kecemasan baru setiap hari. Sementara itu, media sosial memamerkan kehidupan yang seolah selalu baik-baik saja. Banyak orang akhirnya belajar menyimpan letihnya sendiri. Tidak semua kelelahan punya ruang untuk diceritakan. Tidak semua orang punya waktu, apalagi keberanian, untuk mengeluh.
Di titik tertentu, orang berhenti bertanya mengapa hidup terasa berat. Mereka hanya ingin hari ini cepat berlalu. Esok hari dipikirkan belakangan. Pink tabung membantu melewati hari ini. Itu saja. Respons terhadap fenomena ini sering kali berhenti pada larangan dan kekhawatiran.
BACA JUGA:Rompi Oranye Itu Akhirnya Dilipat
Soal kesehatan. Soal ketertiban. Semua itu penting. Namun jika perhatian hanya tertuju pada tabungnya, kita berisiko salah membaca masalah. Pink tabung bukan akar persoalan. Ia hanya gejala yang terlihat di permukaan.
Kita cenderung lebih sibuk menertibkan yang kasatmata daripada memahami yang dirasakan. Ketika muncul bentuk pelarian, yang disorot adalah pelariannya, bukan jalur panjang yang membuat orang ingin melarikan diri. Padahal, selama tekanan hidup tidak berubah, bentuk pelarian akan selalu menemukan jalan. Hari ini tabung ketawa, besok mungkin yang lain.
BACA JUGA:Ancaman Superflu di Tengah Bayang-Bayang Covid-19
Sumber:




