Hari-hari pada pekan ini penuh kejutan. Di ranah politik nasional, apalagi! Hiruk-pikuk dan gemercik suara partai politik terus terdengar satu sama lain seakan hanya merekalah yang pantas menikmati “keindahan” politik. Manuver satu partai politik dibalas partai lain. Satu partai politik ngomong dan bertindak koalisi dengan mengajak partai lain, eh… partai lain tak mau kalah dan langsung melakukan hal yang sama. Duh… Mereka semua seakan mengklaim kalau merekalah yang pantas bicara menyongsong pemilihan presiden 2024. Klaim paling pantas menjadi penentu siapa presiden dan wakil presiden Indonesia untuk lima tahun periode berikutnya. Alhasil, partai politik-partai politik itu terlihat menjajakan sesuatu. Sesuatu yang sejujurnya masih belum laku dijual. Bahkan layak dibilang kurang taktis dan strategis. Terbukti langkah-langkah mereka mudah dibaca, paling tidak dibaca oleh para pengamat (dan sebagian rakyat yang mengikuti) kalau jualan mereka belum bisa ditaksir seberapa tinggi harganya terhadap kepentingan rakyat seperti ramai terlihat di dunia maya. Betapa tidak, mereka para “penjaga dan pujangga” partai politik yang konon orang kebanyakan menyebut sebagai tokoh-tokoh politik “papan atas”, lebih banyak jualan sosok bukan jualan ide, gagasan, dan program terbaik apa untuk negeri ini. Sehingga kesan yang mencuat, semua partai politik hanya berpikir untuk memenangkan kontestasi politik pemilihan presiden dan wakil presiden saja. Inilah gambaran nyata. Dari hari ke hari pekan ini dan pekan sebelumnya partai-partai politik yang kini bergelimang suara di parlemen, terlihat hanya bisa melakukan hal itu, hanya berpikir dan bermanuver untuk memenangkan pemilihan presiden saja!. Tak lebih! Lantas kalau hanya itu; apa istimewanya untuk rakyat? Apa manfaatnya untuk rakyat kalau semua partai politik lebih mengedepankan sosok bukan program? Jadi jangan salahkan rakyat kalau ada yang apatis terhadap keberadaan partai politik. Jangan nilai salah dan buruk mereka (rakyat) yang pesimis bakal mendapatkan sosok presiden dan wakil presiden tidak pro rakyat pada 2024 nanti. Bisa jadi mereka (rakyat) gak begitu percaya dengan survei-survei yang hanya menonjolkan kemenangan persentase sosok sesorang untuk menjadi presiden dan wakil presiden akibat anggapan para surveyor dibeli oleh kelompok tertentu yang berkepentingan memenangkan pemilihan presiden. Tegasnya, gak usah dan gak perlu menunggu jawaban. Di era pandemi seperti ini rakyat tak terlalu butuh sosok presiden dan wakil presiden “boneka” partai. Apalagi sosok hasil sodoran partai politik yang bisa menyodorkan nama calon presiden dan wakil presiden hanya karena aturan Presidential Threshold (PT) 20 persen saja.(*)
Rakyat Tak Butuh Pinokio
Sabtu 25-06-2022,11:09 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 22-05-2026,13:53 WIB
Kiprah DR Supriyono, Lulusan Terbaik Unars, Disertasi Jadi Rujukan KUHAP Baru
Jumat 22-05-2026,07:52 WIB
Kronologi Perampokan Sadis di Pasar Wonokromo, Pelaku Gagal Kuras Emas
Jumat 22-05-2026,14:19 WIB
Jadwal Mobile Legends Professional League Indonesia Season 17 Week 9, Pekan Penentuan Nasib Menuju Playoffs
Jumat 22-05-2026,07:39 WIB
Imigrasi Surabaya Bongkar Modus Baru Haji Ilegal, Terbang Kelas Bisnis dan Incar Autogate
Jumat 22-05-2026,11:22 WIB
Cegah Pungli, Polsek Pronojiwo Amankan Wisata Tumpak Sewu dari Oknum Nakal
Terkini
Jumat 22-05-2026,21:23 WIB
Jelang Hari Raya Iduladha, DKPP Lumajang Perkuat Pengawasan Kesehatan Hewan Kurban
Jumat 22-05-2026,20:30 WIB
Sebelum Janur Kuning Terpasang (3): Bulan Lelah di Rumah yang Sunyi
Jumat 22-05-2026,20:29 WIB
Kecelakaan Beruntun di Jalan Plembon–Unisda Lamongan, Pelajar Tewas
Jumat 22-05-2026,20:22 WIB
Pemotor Asal Bondowoso Kritis Tabrak Mobil Parkir di Situbondo
Jumat 22-05-2026,20:16 WIB