Sentuhan Cinta Batik Jember Pikat Hati Generasi Muda hingga Mancanegara

Selasa 03-11-2026,14:48 WIB
Reporter : Febri Irawan
Editor : Fatkhul Aziz

​Bagi Safeo, tantangan terbesar hari ini adalah bagaimana meruntuhkan pandangan anak muda—khususnya Gen Z—yang kerap menganggap batik sebagai busana kaku yang hanya pantas dikenakan oleh orang tua atau dalam acara formal.

​“Memang enggak bisa kita pungkiri kalau batik itu kesannya tua, kesannya klasik. Padahal sebenarnya batik itu enggak harus selalu baju resmi, mindset kita saja yang meresmikan batik itu,” ucapnya penuh bijak.

​Berangkat dari kegelisahan itu, ia mulai bereksperimen. Safeo menciptakan motif-motif bernuansa Jepang yang disulap menjadi busana kasual berjiwa muda. Batik tidak lagi berhenti pada selembar kemeja, melainkan menjelma menjadi jaket bomber yang keren hingga setelan jas santai untuk sekadar nongkrong.

BACA JUGA:Juara 1 Batik Lamongan 2026, Sapta Paweling Sunan Drajat Pikat Juri

​“Saya sendiri menciptakan sebuah motif, sebuah baju yang lebih ke arah motif-motif bernuansa Jepang. Itu saya jadikan jaket bomber, saya jadikan jas yang bisa untuk resmi tapi juga bisa untuk nongkrong,” ujarnya tersenyum.

​Bagi Safeo, melestarikan batik bukan sekadar tugas para perajin di balik meja kerja, melainkan tanggung jawab moral setiap orang yang mengenakannya.

​“Kalau melestarikan batik itu sebenarnya tugasnya pemakai. Kita sebagai produsen sudah mengupayakan untuk batik ini tetap ada, yang melestarikan ya pemakainya,” tegasnya.

BACA JUGA:292 Peserta Lomba Desain Batik Lamongan, Seluruh Hasil Karya Jadi Hak Panitia

​Lebih dari sekadar kain bermotif, Safeo mengingatkan bahwa selembar batik adalah sebuah karya seni yang bernyawa. Proses pembuatannya menuntut kesabaran tingkat tinggi, ketelitian, dan curahan hati, yang bisa memakan waktu dari sehari hingga bertahun-tahun tergantung kerumitannya.

​“Batik itu sebenarnya bukan kain, bukan motif, tetapi sebuah proses. Ada yang satu hari jadi, ada juga yang sampai enam bulan bahkan dua tahun,” jelasnya.

​Kreativitas tanpa batas ini turut mengantarkannya menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari Jember Fashion Carnaval (JFC), Duta Budaya Jember, hingga merambah pasar luar negeri seperti pengiriman produk ke Malaysia beberapa bulan lalu. Pemerintah daerah dan Bank Indonesia pun turut membersamai langkahnya lewat berbagai pelatihan dan dukungan pemasaran.

BACA JUGA:Dafam Pacific Caesar Surabaya Gelar Festival

​Jejak langkah Safeo di dunia batik juga dihiasi torehan prestasi membanggakan, seperti Juara Utama Lomba Cipta Motif di Banyuwangi (2017) serta Juara Kedua Lomba Cipta Motif di Jember melalui karya Sang Gebang Taman—sebuah kisah cinta legendaris ala "Romeo dan Juliet" versi lokal antara Arya Jasa dan Romangli.

​Meski telah melanglang buana hingga kancah internasional, Safeo ternyata menyimpan satu impian yang sangat sederhana di lubuk hatinya. Ia tidak muluk-muluk; ia hanya ingin melihat anak-anak muda negeri ini kembali bangga mengenakan batik tanpa beban di setiap langkah keseharian mereka.

​“Harapan ke depannya paling enggak anak muda mau pakai. Udah itu aja,” pungkasnya dengan senyuman.(fbr)

Kategori :