BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (5): Saat Restu Keluarga Kalah oleh Kenangan
Di tempat lain, di antara riuh bola biliar, Koko belajar mengikhlaskan. Waktu tak punya tombol mundur. Mereka tak saling menunggu, tak pula saling mengutuk.
Luka paling purba bukanlah tentang berhenti mencintai, melainkan dua hati yang masih saling merindukan namun tak pernah siap berjalan pada waktu yang bersamaan. Kisah mereka tuntas tanpa riuh pesta, tanpa pengkhianatan—hanya karena satu hal yang gagal ditemukan di detik yang selaras: Kesiapan. (atp/rdh/fer/habis)