Cinta Segitiga (1): Cinta Lama, Luka yang Sama
-Ilustrasi-
Ada cinta yang tumbuh diam-diam di bangku sekolah, berakar tanpa perlu diucapkan. Ada perasaan yang tersimpan rapat bertahun-tahun dalam diam. Dan ada seseorang yang selalu ada di setiap retak waktu, namun tak pernah sekalipun menjadi pilihan.
Begitulah lingkaran takdir yang mempertemukan Gaga, Firman, dan Risa dalam satu panggung masa remaja di sekolah yang sama.
BACA JUGA:Rumput Tetangga Lebih Hijau (1): Terperangkap dalam Bayang-Bayang Nadia
Masa SMA mereka adalah serpihan kenangan sederhana tentang ujian, jam pelajaran yang melelahkan, dan tawa di sudut kantin. Namun di antara ketiganya, ada jiwa yang menanggung sunyi sendirian.
Namanya Gaga.

Mini kidi--
Sejak hari-hari berseragam putih abu-abu itu, Gaga sudah terpikat pada Risa—perempuan berderai tawa yang selalu berhasil menghidupkan udara di sekitarnya.
Namun mata Risa sudah terpatri pada Firman.
Firman adalah lakon utama dengan pesona yang bekerja secara otomatis; fasih merangkai kata, dikelilingi kerumunan, dan selalu punya mantra untuk membuat setiap perempuan merasa menjadi satu-satunya. Ia gemar menebar jaring pesona ke banyak arah, meninggalkan jejak kebingungan dan patah hati kecil di belakangnya.
BACA JUGA:Rumput Tetangga Lebih Hijau (2): Membakar Bahtera Demi Mengejar Ilusi Masa Lalu
Namun bagi Risa, Firman tetaplah pusat gravitasi. Sementara Gaga, ia hanya bayangan yang setia mengawasi dari kejauhan.
Saat itu mereka masih duduk di bangku kelas sebelas SMA. Gaga, Firman, dan Risa sering menghabiskan waktu bersama ketika jam istirahat, berkumpul di kantin sekolah, membeli makanan, bercanda, dan membicarakan berbagai hal.
Suatu hari, Risa datang menghampiri meja tempat Gaga dan Firman duduk.
"Eh, kalian lagi ngapain?"
Sumber:








