Dira tersenyum getir. “Oh.”
Koko menatapnya lekat. “Kamu gimana?”
Dira menunduk menatap sepatunya. “Aku juga sendiri.”
“Ko…”
“Iya?”
“Kamu pernah nyesel gak?”
Koko tertegun. “Nyesel apa?”
BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (4): Lebaran Hampa dan Garis Hidup yang Berlawanan
“Ngelepas aku.”
Pandangan Koko jatuh pada perempuan itu. “Sering, Ra.”
Kelopak mata Dira bergetar. “Terus kenapa kamu gak pernah balik?”
Koko tersenyum pedih. “Karena nyesel bukan berarti aku sudah siap memperbaiki semuanya. Aku mundur bukan karena berhenti sayang. Aku mundur karena waktu itu aku belum sanggup jadi suami yang kamu butuhkan.”
Dira terisak hebat. “Lalu sekarang?”
Koko terdiam cukup lama. “Aku masih belajar menata hidupku, Ra.”
Langkah kaki Dira menyeret bayangannya sendiri dalam perjalanan pulang, menyusuri trotoar malam yang kian dingin oleh angin.
Di kamar yang senyap, Dira menatap layar ponsel, mengusap foto usang di pabrik kayu. "Kenapa kita gak ketemu saat kamu sudah siap, Ko?" tanyanya lirih tanpa jawaban selain air mata.