Di saat dunia Titi seolah runtuh dan tengah terkapar di bawah kolong nestapa, Elan hadir membawa setitik terang. “Aku capek, Lan,” keluh Titi lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh keputusasaan. “Capek boleh. Menyerah jangan,” jawab Elan mantap. “Aku merasa gak bisa apa-apa.”
Elan menatapnya lekat-lekat, menyalurkan kehangatan dari manik matanya. “Jangan ngomong begitu. Aku tahu kamu bisa.”
Bagai pahlawan tanpa tanda jasa, Elan turun tangan. Mencarikan lowongan, merapikan berkas, menuntun langkah Titi di lorong-lorong gulita. Tatkala Titi sendiri hampir melompat dari tebing putus asa dan kehilangan sisa-sisa percaya pada dirinya, Elan menjelma sauh yang kokoh.
Hingga takdir berpihak, sebuah panggilan kerja mendarat di genggaman Titi. Orang pertama yang ia sambung lewat udara tentu saja sang kekasih hati. “Aku diterima!” teriak Titi penuh gegap gempita. “Serius?”tanya Elan. “Iya!”
Elan tertawa lepas, merayakan kemenangan itu seolah itu adalah pencapaiannya sendiri. “Tuh, kan. Aku bilang juga apa.” Hari itu, di bawah langit yang cerah, Titi merasa dirinya adalah perempuan paling beruntung di muka bumi karena memiliki Elan.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (6): Pelajaran Pahit dari Akhir Penantian
Mini kidi--
Dan kebaikan itu bukan sekadar urusan periuk nasi. Tatkala raga Titi melemah dihantam demam, Elan siaga merawat. Tatkala duri-duri masalah menusuk dada, lelaki itu menjelma pendengar paling setia. Di saat-saat Titi merasa terasing di tengah keramaian kota, Elan datang memeluk dan melindunginya. “Ada aku,” bisiknya.
Kalimat itu sederhana, tak lebih dari dua kata. Namun bagi Titi yang terbiasa dihantam badai seorang diri, kalimat itu laksana dermaga paling aman untuk berlabuh. Sayangnya, Titi belum membaca halaman terakhir dari takdir mereka. Orang yang menenun rasa aman di hatinya itu... perlahan-lahan justru menjelma monster paling mengerikan yang ia takuti.
Sisi gelap Elan merayap keluar tiap kali amarah bertakhta di kepala mereka. Mula-mula hanya nada suara yang menanjak, bergeser menjadi makian tajam, lalu berujung pada sumpah serapah yang selalu disesali begitu badai reda. “Kenapa sih kamu selalu bikin aku emosi!” bentak Elan garang. “Aku cuma menjelaskan,” bela Titi terbata. “Diam!”
BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (5): Ketulusan Datang untuk Perempuan Lain
Gempur Rokok Illegal--
Titi terperanjat. Lelaki lembut yang biasanya mengusap rambutnya kini berubah wujud menjadi orang asing yang beringas. Namun, begitu api amarah itu padam, Elan kembali mencair menjadi sosok yang ia kenal. “Maaf,” sesalnya menunduk.
Titi membisu, tenggelam dalam kelu. Namun, pertikaian berikutnya datang dengan wujud yang lebih beringas. Bentakan tak lagi cukup; tangan-tangan kekar itu mulai melayang, menorehkan luka fisik yang membekas di kulit dan jiwa. Titi merintih, air matanya tumpah ruah membasahi pipi. “Lan, sakit…” rintihnya pilu.
Melihat air mata itu, Elan seketika tersadar dari iblis yang merasukinya. Amarahnya menguap, menyisakan rasa bersalah yang teramat sangat. Ia menangis tersedu, bersimpuh dalam penyesalan. “Aku gak bermaksud.” Titi merosot mundur, menjauh dari rengkuhannya. (atp/rdh/fer/bersambung)