Anak Krakatau Masih Jauh dari Letusan Pembentuk Kaldera
Ilustrasi Anak Gunung Krakatau-Istimewa-
JAKARTA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda diperkirakan masih membutuhkan waktu sangat panjang untuk menuju fase letusan dahsyat pembentuk kaldera. Saat ini, gunung api tersebut dinilai masih berada dalam fase inkubasi.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aditya Pratama mengatakan, kondisi Anak Krakatau saat ini masih cukup jauh untuk memasuki tahapan berikutnya sebelum mencapai fase letusan besar pembentuk kaldera.
"Pada (Gunung) Anak Krakatau, ini diperkirakan masih pada fase inkubasi begitu ya. Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera forming eruption," kata Aditya dalam diskusi kebencanaan yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Gempur Rokok Illegal--
Aditya menjelaskan, sistem gunung api di kawasan Selat Sunda secara historis terbagi dalam tiga periode utama, yakni Krakatau tua, Krakatau muda, dan Anak Krakatau. Anak Krakatau tumbuh secara perlahan setelah letusan dahsyat Krakatau pada 1883.
Dalam siklus gunung api tersebut, letusan yang membentuk kaldera tidak terjadi secara tiba-tiba. Prosesnya umumnya melewati sejumlah tahapan, mulai fase inkubasi, pematangan atau maturasi, fermentasi, hingga akhirnya mencapai letusan besar pembentuk kaldera.
Berdasarkan riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Earth Science, Aditya memaparkan bahwa dapur magma Anak Krakatau saat ini teridentifikasi berada pada kedalaman sekitar 7,4 hingga 26,6 kilometer.
Kondisi tersebut berbeda dengan Krakatau tua dan Krakatau muda. Kedua periode gunung api sebelumnya diketahui mempunyai kantong magma besar pada kedalaman yang relatif dangkal menjelang terjadinya letusan besar dan pembentukan kaldera.
"Jadi paling tidak sudah ada dua siklus pembentukan kaldera begitu ya di abad ke-5, abad ke-4, abad ke-6, dan 1883," ucap Aditya memberikan konteks sejarah letusan besar.
Selain memetakan kedalaman dapur magma, tim peneliti menganalisis belasan sampel batuan melalui kajian petrografi dan geokimia. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik magma Anak Krakatau terus mengalami evolusi dan berbeda dibandingkan periode Krakatau sebelumnya.
BACA JUGA:Patahan Surabaya Viral, Pakar ITS Dorong Pemkot Perkuat Mitigasi Gempa
Perbedaan tersebut salah satunya terlihat dari keberadaan mineral olivin dalam sampel batuan Anak Krakatau. Temuan itu memperkuat indikasi bahwa komposisi kimia pada sistem dapur magma Anak Krakatau saat ini berbeda secara mendasar dibandingkan sistem magma Krakatau pada periode sebelumnya.
Sumber:







