Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (5): Ketulusan Datang untuk Perempuan Lain
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--
Malam itu, di kamar yang temaram, Sasa menatap layar ponsel dengan jemari yang gemetar di atas tuas keyboard. “Apa Umar benar-benar mau menikahi Bida?”tanya Sasa
Pesan itu dikirim ke Raka. Tidak ada balasan instan. Hanya ada tiga titik hitam yang berkedip-kedip, hidup lalu mati, seolah mewakili degup jantungnya yang kian kalut. Sampai akhirnya layar berpendar, menampilkan balasan yang meremukkan sisa-sisa harapannya. “Sepertinya iya, Sa. Umar serius.”jawab Raka
Sasa terhenyak. Ada sesak yang menghimpit dada, begitu pekat hingga sulit dijelaskan. Bukan karena Umar direbut perempuan lain, namun yang membuat hatinya terkoyak perih adalah kenyataan pahit: lelaki yang dulu begitu pengecut, yang bertahun-tahun lamanya menolak memberikan secercah kepastian padanya, kini justru menjelma menjadi sosok berani yang mempertaruhkan segalanya demi cinta yang jalannya jauh lebih terjal.
Dengan mata yang memburam karena air mata, Sasa kembali merangkai tanya. “Dia sudah dikenalkan ke keluarganya?”tanya Sasa. “Sudah.”jawab Raka singkat. Pertahanan Sasa runtuh. Bulir air mata itu jatuh tanpa permisi. “Orang tuanya menerima?”tanya Sasa. “Iya.”jawab Raka singkat.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (4): Perjuangan Cinta di Tengah Bayang Masa Lalu

Mini kidi--
Sasa membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan. Bertahun-tahun ia menghabiskan usianya dalam penantian bodoh, menunggu sebuah kepastian yang ternyata memang bisa dilakukan oleh Umar. Hari-hari berikutnya berubah menjadi neraka kecil bagi Sasa. Ia tersiksa oleh rasa penasaran yang menggerogoti kewarasannya.
Pertanyaan demi pertanyaan tentang Umar meluncur begitu saja, awalnya kepada Raka, lalu menyebar ke beberapa teman lama. “Umar masih kerja di sana?”tanya Sasa. “Dia sering ketemu Bida?”imbuhnya. “Mereka sudah bicara soal nikah?”lagi dan lagi Sasa melontarkan pertanyaan pada Raka, sampai batas kesabaran Raka habis. “Sa, lu masih sayang Umar?”tegas Raka.
Sasa terdiam, tercekat di antara ego dan luka. “Aku gak tahu.”ucap Sasa. “Kalau gak tahu, kenapa terus cari kabarnya?”ucap Raka. Sasa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa kosong. “Karena aku masih gak ngerti.”kata Sasa. “Gak ngerti apa?”tanya Raka. “Kenapa sama aku dia takut. Tapi sama Bida dia berani.”tegas Sasa.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (3): Ketika Cinta Tersandung Beda Keyakinan

Gempur Rokok Illegal--
Raka terpejam sejenak, lalu menatap Sasa tajam. “Sa, mungkin ini bukan soal siapa yang lebih baik.”ucap Raka. “Lalu?”kata Sasa. “Mungkin Umar yang sekarang memang bukan Umar yang dulu.”tegas Raka. Jawaban itu sama sekali tidak menenangkan. Malah semakin menghunjam ulu hati Sasa. Jika benar begitu, berarti selama bertahun-tahun lamanya ia hanya mencintai seorang lelaki di waktu yang salah.
Malam itu, didorong oleh sisa-sisa keberanian yang entah datang dari mana, Sasa mendial nama Umar. “Apa kabar, Mar?”ucap Sasa memberanikan diri. Begitu notifikasi itu muncul di layar ponselnya, Umar membeku. Seketika itu juga gulungan kenangan masa lalu berkelebat di kepalanya—tribun basket yang bising, seragam putih abu-abu, masa-masa kuliah yang melelahkan, wisuda, dan seorang perempuan setia yang selalu berdiri menunggunya pulang. Umar membalas dengan jemari kaku. “Baik. Kamu?”jawab Umar.
Percakapan canggung itu mengalir, menyeret mereka pada pusaran masa lalu, hingga akhirnya Sasa melontarkan pertanyaan mematikan. “Kamu serius sama Bida?”tanya Sasa. Umar tahu pertanyaan itu cepat atau lambat akan menghantamnya. “Iya.”jawab Umar singkat. “Mau menikah?”tanya Sasa.
Umar menarik napas berat, merasakan beban berat di dadanya. “Iya.”jawab Umar singkat. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:







