Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (6): Pelajaran Pahit dari Akhir Penantian
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga terdiam dalam hening.--
Waktu terus berputar membawa luka yang perlahan mengering. Sambungan telepon itu mendadak sunyi sebelum Sasa bersuara. “Mar…” Suara Sasa bergetar hebat, sarat akan kepedihan. “Aku boleh tanya satu hal?”tanya Sasa. “Boleh.”jawab Umar. “Apa yang Bida punya sampai kamu berani melakukan semua yang dulu gak pernah kamu lakukan buat aku?”ungkap Sasa.
Umar terdiam, tenggelam dalam kebisuan. “Aku gak sedang menyalahkan Bida,” lanjut Sasa. “Aku tahu dia datang setelah kita selesai. Tapi aku bertahun-tahun sama kamu, Mar. Kita seiman. Kita tumbuh bersama. Aku selalu ada waktu kamu basket, kuliah, organisasi, sampai kamu mulai kerja.”suaranya kini pecah dalam tangis.
Umar memejamkan mata. “Lalu kenapa aku harus menunggu bertahun-tahun hanya untuk sebuah kepastian yang gak pernah datang?”tanya Sasa. “Sasa…”panggil Umar ingin menghentikan harapan semunya. “Sedangkan ketika kamu mencintai perempuan yang berbeda keyakinan, kamu malah berani menghadapi semuanya.”tegas Sasa.
“Kenapa cinta yang lebih sulit justru kamu perjuangkan?”Sasa terisak. “Karena dulu aku pengecut, Sa.”Umar tersudut. “Aku selalu bilang takut sama orang tua. Padahal kenyataannya aku bahkan gak pernah mencoba.” Umar bersuara parau. “Aku terlalu nyaman karena kamu selalu ada.”tegas Umar. “Jadi karena aku terlalu sabar?”ucap Sasa.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (5): Ketulusan Datang untuk Perempuan Lain

Mini kidi--
“Bukan salah kamu.”ucap Umar “Terus?”tanya Sasa. “Aku yang menganggap kamu akan selalu menunggu.”tegas Umar. “Ketika kehilangan kamu, baru aku sadar cinta gak cukup cuma dijalani. Harus ada keberanian menentukan arahnya,” bisik Umar. “Jadi aku yang mengajarimu cara mencintai… tapi perempuan lain yang mendapatkan hasilnya?”Sasa tertawa getir.
Umar bungkam. “Kalau aku kembali sekarang?”tanya Sasa. “Maksud kamu?”Umar mengkerutkan dahi. “Kalau aku bilang aku masih sayang kamu?”ucap Sasa. “Maaf, Sa.”tegas Umar. “Kamu pilih dia?”ucap Sasa. “Iya.”jawabnya singkat. “Walaupun aku kembali?”ucap Sasa. “Iya.”tegas Umar. “Aku menyesal pernah membuat kamu menunggu,” ucap Umar. “Tapi penyesalanku gak boleh menjadi alasan untuk menyakiti orang lain.”imbuh Umar
Beberapa hari kemudian, tanpa ada yang ditutup-tutupi, Umar menceritakan semuanya kepada Bida. “Aku gak mau ada yang aku sembunyikan.”ucap Umar. “Kamu masih mencintai Sasa?”tanya Bida. “Aku masih menghargai semua yang pernah kami punya.”ucap Umar. “Lalu cinta?”tanya Bida.
Umar meraih tangan Bida, menggenggamnya erat. “Cinta yang ingin aku perjuangkan sekarang ada di sini.”. “Jangan perjuangkan aku karena merasa harus menebus kesalahanmu kepada Sasa.”ucap Bida. “Bukan.”jawabnya singkat. “Lalu?”tanya Bida. “Karena bersamamu aku akhirnya mengerti, perbedaan sebesar apa pun gak boleh dijadikan alasan untuk menggantung seseorang tanpa arah.”tekad Umar bulat dengan Bida.
Di tempat lain, Sasa mulai menata serpihan hatinya yang berserakan. Ia berhenti memantau hidup Umar, berhenti menatap foto-foto Bida, dan berhenti membandingkan nasibnya dengan orang lain. Suatu malam, ia tak sengaja menemukan selembar foto usang dirinya di tribun lapangan basket. Di latar belakang yang agak jauh, tampak Umar berdiri mengenakan jersey timnya.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (4): Perjuangan Cinta di Tengah Bayang Masa Lalu

Gempur Rokok Illegal--
Sasa tersenyum tipis, sementara air matanya meleleh. Dulu, ia sempat bodoh mempercayai mitos bahwa perempuan yang paling sabar menemani dari nol adalah perempuan yang akan bersanding di pelaminan. Ternyata takdir tidak sesederhana itu. Sasa meraih ponselnya. Ia menghapus draf pesan yang tadinya hendak ia kirimkan: “Kalau suatu hari kamu berubah pikiran, cari aku.”
Sumber:







