Nama itu-Lasmi-datang seperti hembusan angin beracun. Rara pertamakali mendengarnya dari bisik-bisik genit para wanita di arisan klub golf.
"Kalian tahu, caddy di lapangan tempat suami-suami kita main sekarang muda dan ranum? Terutama yang namanya Lasmi. Kulitnya kuning langsat, betisnya bagai padi bunting," bisik seorang wanita dengan tawa yang centil. Rara hanya tersenyum hambar saat itu. Ia percaya pada Bima. Lelaki yang telah berbagi selimut dengannya selama tiga dekade tidak akan mungkin tergoda oleh daun muda. Namun, benteng pertahanan Rara runtuh di suatu sore yang basah oleh sisa hujan. Saat hendak merapikan tas golf Bima yang tertinggal di bagasi mobil, jemari Rara menyentuh sesuatu yang asing di kantung kecil tas tersebut. Sebuah kotak beludru merah bergulir jatuh. Di dalamnya, sebuah gelang emas putih berkilauan, memantulkan cahaya senja yang temaram. Jantung Rara bagai dihantam godam bertenaga seribu pon ketika matanya menangkap secarik nota kecil di bawah kotak tersebut. “Untuk Lasmi tersayang. Semoga kau suka.” Dunianya seolah berputar. Kerongkongan Rara mendadak kering, dan air mata yang coba ia tahan kini menggenang di pelupuk mata. BACA JUGA:Segitiga Cinta (1): Gairah Puber Kedua di Tengah Mahligai Rumah TanggaMini Kidi Wipes.-- Malamnya, di meja makan yang sunyi, Rara menatap Bima yang sedang menyuap nasi dengan tenang. Anggun namun rapuh, Rara membuka suara. "Mas..."ucap Rara. "Ya, Rara?"jawab Suaminya. "Siapa Lasmi?"tanya Rara Gerakan sendok Bima terhenti di udara. Matanya berkedip cepat, mencoba menguasai kegugupan yang mendadak menyerang wajah tuanya yang masih tampan. "Lasmi? Oh... dia hanya seorang caddy di lapangan. Kenapa?"ucap Bima terbata-bata. "Lalu, mengapa ada gelang emas indah di tas golfmu dengan namanya tertulis di nota, Mas? Apakah pelayanan seorang caddy begitu mahal hingga harus dibayar dengan kehormatan suamiku?" Suara Rara bergetar, menahan badai emosi yang siap meledak. Bima menghela napas panjang, mencoba tersenyum santai walau guratan panik tak bisa disembunyikan. "Jangan berpikiran kotor, Rara. Dia anak yang baik, sering membantuku membawa stik golf. Itu hanya sekadar hadiah tanda terima kasih. Jangan melebih-lebihkannya." Ucap Bima. BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (6): Maafkan Bulan yang Terlambat Menjadi Istri
Gempur Rokok Illegal-- Rara terdiam. Ia memilih mengalah pada malam, namun di dalam hatinya, luka itu telah menganga dan berdarah. Minggu-minggu berikutnya menjadi neraka jahanam bagi batin Rara. Bima semakin sering pulang larut malam dengan alasan rapat relasi bisnis. Kamar tidur mereka yang dulunya adalah surga dunia, kini terasa sedingin es di kutub. Bima seringkali tertidur memunggungi Rara, sibuk menatap layar ponselnya sembari tersenyum-senyum sendiri bak pemuda yang baru kasmaran. Tak tahan oleh siksaan batin yang mendera, suatu sore Rara nekat mendatangi lapangan golf tanpa pemberitahuan. Dari balik rindangnya pohon beringin di tepi lapangan, mata Rara menangkap sepotong pemandangan yang meremukkan dadanya hingga hancur berkeping-keping. Di sana, di atas rumput hijau yang terhampar luas di bawah langit senja yang memerah bagai darah, Bima sedang tertawa lepas. Di sampingnya, berdiri seorang gadis muda berpakaian ketat yang menonjolkan lekuk tubuh remajanya yang sintal. Kulitnya halus, wajahnya segar tanpa dosa. Itulah Lasmi. Bima tampak begitu bugar, tangannya sesekali menyentuh pundak gadis itu dengan kemesraan yang tidak biasa. Tatapan mata Bima bukan lagi tatapan seorang bapak pelindung, melainkan tatapan lelaki kelaparan yang sedang memuja mangsanya. Rara memegangi dadanya yang terasa sesak. Air matanya luruh menyisir pipinya yang mulai berkerut ditelan usia. Tiga puluh dua tahun kesetiaan yang ia rawat dengan doa dan air mata, kini tampak begitu murah dan tak berarti di hadapan kemolekan seorang gadis yang usianya bahkan lebih muda dari anak sulung mereka sendiri. (atp/rdh/fer/bersambung)