Segitiga Cinta (3): Duri Pengkhianatan di Balik Senyum Palsu Suami
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga saat menatap wajah sang suami.--
Malam harinya, di dalam kamar yang sunyi, Rara menatap wajah Bima yang telah terlelap dalam mimpi. Di bawah remang lampu tidur, Rara berbisik lirih di antara isak tangisnya yang tertahan.
"Mas... ke mana perginya janji setiamu saat kita masih miskin dulu? Mengapa di senja usia ini, kau tega menukarku dengan sekuntum bunga yang baru mekar?"gumam Rara.
Malam kian larut, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Rara merasakan ketakutan yang teramat sangat. Ketakutan akan kehilangan lelaki yang teramat dicintainya, dimangsa oleh pesona puber kedua yang mengerikan.
Lebih dari tiga puluh tahun mengabdi sebagai seorang istri, Rara tahu benar belatung-belatung kebohongan justru akan berbiak subur di atas makian. Namun, memendam badai di dalam dada ternyata jauh lebih menyiksa daripada meledakkannya seketika.
Bima, lelaki yang rambutnya mulai dihiasi jalinan uban itu, kini semakin gila bersolek. Lapangan golf yang dulunya hanya disinggahi dua kali seminggu, kini telah menjelma menjadi rumah kedua baginya.
"Bukankah minggu lalu Mas baru saja turun ke lapangan?" tebak Rara suatu pagi, menyembunyikan getar getir di sudut bibirnya.
BACA JUGA:Segitiga Cinta (1): Gairah Puber Kedua di Tengah Mahligai Rumah Tangga

Mini Kidi Wipes.--
Bima mematut diri di depan cermin, mengencangkan topi golfnya dengan senyum yang terasa asing. "Sekalian bertemu relasi bisnis. Kau tahu sendiri bagaimana relasi-relasiku."
"Relasi... atau sebuah alasan yang dicari-cari, Mas?" singgung Rara.
Bima hanya terkekeh sumbang, sebuah tawa yang sengaja diciptakan untuk mengusir rasa bersalah.
"Ah, kau ini mulai aneh-aneh saja."
Kalimat itu menohok jantung Rara.
Malamnya, berselimut ketetapan hati yang bulat, Rara menghubungi Satrio—mantan orang kepercayaan di perusahaan keluarga mereka yang terkenal jujur.
"Aku butuh bantuanmu, Satrio. Sangat butuh..." bisik Rara, suaranya parau menahan beban.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk Ibu?" tanya Satrio di ujung telepon, menangkap nada kecemasan yang ganjil dari mantan majikannya.
"Tolong... selidiki perempuan bernama Lasmi." Sejenak, sepi mencengkeram jalinan telepon. Satrio tercekat.
"Lasmi... caddy golf yang sering menemani Bapak itu, Bu?" Sahut Rara mengangguk pelan pada kehampaan malam.
"Aku hanya ingin meraba kebenaran, Satrio. Betapa pun pahitnya."ucap Rara
BACA JUGA:Segitiga Cinta (2): Luka di Atas Lapangan Golf

Gempur Rokok Illegal--
Beberapa hari kemudian, di sebuah sudut remang kafe yang sunyi, Satrio datang membawa kenyataan yang meremukkan jidat.
"Ibu..." Satrio ragu, wajahnya menyiratkan iba yang mendalam.
"Katakanlah, Satrio. Jangan ada yang kau sembunyikan," desak Rara, jemarinya saling meremas di bawah meja.
"Pak Bima... memang terlampau sering menghabiskan waktu bersama Mbak Lasmi."Ucap Satrio
"Sering yang bagaimana?"tanya Rara.
"Bukan sekadar di lapangan golf, Bu. Mereka kerap makan malam romantis di tempat tersembunyi. Bahkan..." Satrio menelan ludah, berat rasanya mengayunkan belati kata-kata.
"...beberapa kali saya melihat mereka keluar dari sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Pak Bima juga menghujaninya dengan perhiasan dan hadiah-hadiah mahal."lanjut Satrio
Brak! Dinding pertahanan batin Rara seolah runtuh dipalu godam. Dadanya sesak, napasnya memburu berkejaran dengan detak jantung yang kian liar.
"Kau yakin dengan penglihatanmu, Satrio?" Ucap Rara. "Saya bersumpah, Bu. Saya tidak ingin Ibu terluka, tapi mata ini tidak mungkin berdusta berulang kali." (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:






