Segitiga Cinta (4): Asmara Terlarang, saat Kelembutan Istri Telah Mati
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga dalam bingkai pernikahan.--
Malam itu, di kamar tidurnya yang sunyi dan dingin, tangis Rara tumpah tanpa suara. Air mata itu bukan sekadar tetesan cemburu seorang wanita tua, melainkan ratapan atas runtuhnya pilar kepercayaan kepada lelaki tempatnya bersandar selama tiga dekade.
Sementara itu, di sudut kota yang lain, asmara terlarang justru tengah berkobar hebat. Bagi Lasmi, gadis muda dengan kulit ranum itu, Bima bukanlah sekadar pria berdompet tebal. Bima adalah sosok pelindung yang datang membawa curahan perhatian, kemewahan, dan tutur kata manis yang menghanyutkan.
Bagi Bima sendiri, dekapan Lasmi adalah pancuran air suci yang membuatnya merasa muda kembali. Di hadapan Lasmi, egonya sebagai lelaki perkasa kembali membubung. Ia dipuji, dipuja, dan diagungkan—sesuatu yang telah lama garing dan gersang di dalam belantara rutinitas rumah tangganya bersama Rara.
Sore itu, di sebuak kafe bernuansa temaram usai bermain golf, Lasmi menyandarkan kepalanya di bahu Bima. Matanya menatap manja.
"Mas Bima..."sapa Lasmi lembut. "Ya, Sayang?" sahut Bima, jemarinya mengelus rambut hitam Lasmi. "Bagaimana jika... jika istri Mas sampai mengendus hubungan kita?"tanya Lasmi.
Bima tersenyum jumawa, seolah dunia berada di bawah telapak kakinya. "Dia tidak akan pernah tahu, Lasmi. Perempuan rumah tangga seperti dia tidak akan sampai ke arah sini."ungkapnya.
"Mas yakin?"Lasmi meyakinkan ucapan Bima. "Percayalah padaku. Aku yang akan mengatur semuanya agar tetap aman di tempatnya."ujar Bima.
BACA JUGA:Segitiga Cinta (1): Gairah Puber Kedua di Tengah Mahligai Rumah Tangga

Mini Kidi Wipes.--
Lasmi terdiam, tersenyum manja dalam ketenangan yang semu. Namun di tempat lain, badai yang sesungguhnya justru tengah bersiap menggulung mereka berdua. Dua hari berselang, Satrio kembali menemui Rara. Kali ini, gurat ketegangan tergambar jelas di wajah pemuda itu. Sebuah amplop cokelat tebal diletakkannya di atas meja. "Bu... tabir ini sudah terbuka terlalu lebar," ujar Satrio berbisik serak.
Rara menatap amplop itu dengan tatapan ngeri seolah melihat sekotak dinamit. "Apa lagi ini, Satrio?"tanya Rara. "Hubungan mereka sudah terlalu jauh, Bu. Bukan sekadar main-main."ucap Satrio.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Rara membuka amplop itu. Lembar demi lembar foto meluncur keluar. Di sana, di atas kertas mengilat itu, terpampang nyata sosok suaminya tengah bergandengan mesra di tempat umum. Bahkan ada foto jahanam di mana Bima tengah merengkuh pinggang Lasmi berpelukan intim di lobi apartemen.
Air mata Rara menetes, membasahi wajah suaminya di dalam foto. Tiga puluh dua tahun mengarungi bahtera. Puluhan tahun memeras keringat membangun kejayaan usaha bersama.Membesarkan anak-anak hingga dewasa. Kini, semua kesetiaan itu luluh lantak, tak lebih dari seonggok sampah tak berharga di mata suaminya. "Maafkan saya, Bu... Saya terpaksa membuka luka ini."Satrio menunduk tak tega.
BACA JUGA:Segitiga Cinta (2): Luka di Atas Lapangan Golf

Gempur Rokok Illegal--
Rara mengusap air matanya dengan tisu. Gerakannya pelan, namun perlahan goyangan di tangannya mendadak sirna. Kepedihan di matanya meredup, digantikan oleh kilat dingin yang mengerikan.
"Terima kasih, Satrio. Kau telah menunaikan tugasmu dengan sangat baik."ucap Rara. "Apakah Ibu akan langsung mengonfrontasi Pak Bima malam ini?" Rara menggeleng pelan. Bibirnya menyunggingkan senyum misterius—senyum wanita yang terluka dalam. "Belum saatnya."ucap Rara. "Lalu... apa yang akan Ibu lakukan?"tanya Satrio.
Rara memandangi foto kemesraan suaminya dengan perempuan muda itu. Detik itu juga, kelembutan seorang istri penyabar telah mati di dalam dirinya. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang menuntut keadilan atas harga dirinya yang diinjak-injak.
"Jika perempuan jalang itu mengira bisa merebut istana dan lelaki yang kubangun dengan air mata..." Rara menarik napas dalam-dalam, suaranya terdengar begitu dingin mematikan. "...maka dia harus bersiap menghadapi kehancurannya sendiri. Aku tidak akan pernah tinggal diam, Satrio. Tidak akan pernah!". Satrio terkesiap. Merinding ia mendengar nada bicara Rara. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:






