iklan bhayangkara2
Pildun Banner

Segitiga Cinta (6): Akhir Duri Kesetiaan Jadi Karma Pengkhianatan

Segitiga Cinta (6):  Akhir Duri Kesetiaan Jadi Karma Pengkhianatan

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Bima benar-benar melangkah pergi. Mengangkat kaki dari rumah penuh kenangan itu, demi mengejar cinta mudanya. Tak lama kemudian, kabar miring itu terbukti: Bima telah mengikat janji suci di bawah tangan—menikah siri dengan Lasmi.

Banyak orang mengira Rara akan menjelma menjadi singa betina yang terluka. Mengamuk, melabrak Lasmi, menjambak rambut wanita perebut suami orang itu, atau merubuhkan rumah tempat mereka memadu kasih terlarang. 

Namun, Rara bukanlah wanita murahan yang mengumbar aib di jalanan. Dengan keanggunan yang terluka, ia justru melangkah ke kantor seorang pengacara.

"Apa yang Ibu inginkan dari gugatan ini?" tanya sang pengacara, menatap iba pada guratan duka di wajah wanita paruh baya itu.

"Saya tidak haus dendam, Pak. Dendam hanya akan mengotori hati saya."Rara menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa ketegaran jiwanya. 

"Lalu?"tanya sang pengacara

"Saya hanya ingin mengambil apa yang menjadi hak saya. Dan menuntut sebuah pelajaran hidup... bahwa setiap benih dosa yang ditanam, harus dibayar dengan konsekuensi yang setimpal."jawab Rara

Maka, genderang perang di meja hijau pun bertabuh. Lembar-lembar aset yang mereka bangun dari nol—sejak zaman merangkak hingga mengecap kemewahan—dibeberkan tanpa ampun di depan majelis hakim. 

Sidang bergulir berminggu-minggu, menguras air mata dan melelahkan raga. Bima hadir dengan gurat penyesalan dan wajah yang kian kusam dimakan beban batin, sementara Lasmi duduk menyendiri di sudut koridor pengadilan dengan kecemasan yang menggelayuti wajah cantiknya.

BACA JUGA:Segitiga Cinta (3): Duri Pengkhianatan di Balik Senyum Palsu Suami


Gempur Rokok Illegal--

Suatu siang, usai ketukan palu hakim menunda sidang, Lasmi memberanikan diri mencegat langkah Rara di lorong yang sepi.

"Maafkan saya, Ibu..." ucap Lasmi, matanya berkaca-kaca, tak berani menatap langsung mata wanita di hadapannya. 

"Kalau... kalau saja saya tahu Mas Bima masih begitu dicintai oleh Ibu, mungkin saya tidak akan..." Rara menghentikan langkahnya. 

Sumber: