Antara Cinta dan Harta (6): Maafkan Bulan yang Terlambat Menjadi Istri

Jumat 03-07-2026,20:34 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Udin

Bintang melangkah mendekat, perlahan namun terasa begitu berat. Di bawah temaram lampu kamar tidur yang mulai terasa pengap, ia menatap wajah wanita yang telah menyerahkan seluruh sisa hidup bersamanya.

Ada genangan telaga bening di kelopak mata Bulan, namun bagi Bintang, telaga itu kini terasa menguburkan separuh dari jiwanya. Dipujanya dagu Bulan dengan ujung jemari yang bergetar, memaksa sepasang netra yang basah itu menantang tatapannya.

"Bulan..." Suaranya kini bergetar hebat, menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dada. "Sejak hari pertama aku menjabat tangan ayahmu di depan penghulu, aku selalu meletakkan kebahagiaanmu di atas segalanya. Aku tak pernah melarangmu berbakti. Aku tak pernah menghitung berapa banyak uang yang telah kukeluarkan untuk keluargamu..."Bintang berhenti sejenak, menelan kepahitan yang menyumbat tenggorokannya.

"...tapi hari ini, di ruangan ini, aku baru menyadari satu hal yang amat perih. Ternyata selama ini, dalam mengarungi badai rumah tangga ini, aku berjuang sendirian."kata Bintang

Tangis Bulan pecah. Air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya yang pias. Namun Bintang belum selesai menumpahkan luka hatinya.

"Aku tidak pernah memintamu memilih antara aku atau ibumu, Bulan. Tapi seorang wanita yang telah menjadi istri seharusnya paham..." Bintang menatap netra istrinya dengan pandangan yang mengunci jiwa.

"...bahwa setelah akad diucapkan, rumah tangga yang kita bangun bersama adalah amanah suci dari Tuhan yang wajib kau lindungi bersama suamimu, bukan dihancurkan demi menyenangkan orang lain." Kata-kata itu bagai petir di siang bolong bagi Bulan.

BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (5): Janji yang Kini Mulai Dikhianati


Mini Kidi Wipes.--

Bulan terpaku, tak mampu lagi membantah. Beberapa hari berlalu dalam kebisuan yang menyiksa. Ibu mertuanya sempat kembali, bukan lagi untuk meminta, melainkan untuk melemparkan caci maki. Kabar burung ditiupkan ke tengah keluarga besar, mengecap Bintang sebagai menantu yang pelit, egois, dan tidak tahu balas budi.

Namun Bintang hanya menerima semua itu dengan senyuman getir. Ia tidak sudi lagi membela diri. Sebab ia tahu, di mata orang-orang yang mengukur kasih sayang dengan lembaran materi, penjelasan setulus apa pun hanya akan dianggap angin lalu.

Malam itu, angin berembus perlahan, menggoyang dedaunan di halaman. Bintang sedang duduk sendirian di teras, menatap kekosongan malam, ketika Bulan datang dan duduk di sampingnya.

Untuk pertama kalinya setelah badai itu berlalu, Bulan berbisik lirih penuh penyesalan,   "Mas... maafkan aku."

Bintang menoleh, menatap wajah istrinya yang sembap. "Aku... aku terlalu sibuk ingin menjadi anak yang berbakti," air mata Bulan kembali merebak, mengalir menuruni pipinya yang pias dalam temaram lampu teras.

"Sampai aku lupa... bagaimana caranya menjadi seorang istri yang baik untukmu." Melihat air mata itu, runtuhlah keegoan Bintang. Diambilnya jemari tangan Bulan, lalu digenggamnya dengan kehangatan yang teramat tulus. Tidak ada dendam di matanya, tidak ada amarah yang tersisa.

Hanya ada rasa cinta yang dalam, cinta dua anak manusia yang sedang mengecap pahit manisnya ujian kehidupan. Mereka kini belajar, bahwa cinta yang suci pun bisa hancur jika tidak dipagari oleh batas-batas yang tegas.

BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (4) Harga Diri di Tepi Jurang Bahtera Cinta


Gempur Rokok Illegal--

Sejak malam yang penuh air mata itu, Bulan menjelma menjadi wanita yang berbeda. Ia mulai berani menggelengkan kepala dan berkata "tidak" kepada keluarga besarnya ketika tuntutan mereka mulai mengikis kebahagiaan rumah tangganya.

Bukan karena ia telah berubah menjadi anak durhaka. Bukan karena ia berhenti mengasihi ibu yang melahirkannya. Melainkan karena kini ia telah dewasa dan memahami satu kebenaran hakiki: membantu keluarga adalah sebuah kebajikan, namun mengorbankan masa depan suami dan darah daging sendiri demi memuaskan nafsu manusia yang tak pernah puas, adalah sebuah kebodohan yang nyata.

Sebab, sebuah mahligai rumah tangga tidak selalu runtuh karena badai orang ketiga. Ada kalanya, pondasi itu hancur berantakan menjadi puing-puing karena tak ada satu pun yang berani berdiri kokoh untuk menjaga batas suci; antara cinta kepada orang tua yang melahirkan, dan tanggung jawab suci kepada keluarga kecil yang telah dipilih dan dibangun sendiri di bawah saksi langit. (atp/rdh/fer/habis)

Kategori :