Diterjunkan Drone, KAI Daop 9 Jember Buru Pelempar Batu Kereta Api

Rabu 24-06-2026,16:38 WIB
Reporter : Febri Irawan
Editor : Udin

JEMBER, MEMORANDUM Disway.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 9 Jember mengambil langkah serius menghadapi maraknya aksi pelemparan batu terhadap kereta api yang masih terjadi di wilayah operasionalnya. Selain meningkatkan patroli jalur, KAI kini mengerahkan drone untuk mengawasi titik-titik rawan guna mencegah aksi vandalisme yang mengancam keselamatan penumpang.

"Kami terus memperkuat upaya pencegahan, salah satunya melalui pemanfaatan drone untuk memantau daerah rawan gangguan keamanan secara lebih efektif," kata Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, Rabu 24 Juni 2026.

Langkah tersebut di lakukan setelah dua kereta api menjadi sasaran pelemparan batu oleh orang tidak di kenal pada Minggu 21 Juni 2026. Aksi berbahaya itu terjadi di petak jalan antara Stasiun Leces dan Stasiun Probolinggo saat KA Logawa dan KA Ijen Ekspres melintas.

"Kami mengutuk keras aksi pelemparan batu terhadap KA Logawa dan KA Ijen Ekspres yang terjadi baru-baru ini," ujarnya.

BACA JUGA:Ditolak Warga, PT KAI Gagal Tutup Total Pintu Perlintasan Bogorejo Magetan


Mini Kidi Wipes.--

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, lemparan batu menyebabkan kaca rangkaian kereta mengalami keretakan. Insiden tersebut juga memicu rasa takut dan trauma bagi penumpang yang berada di dalam kereta saat kejadian berlangsung.

"Pelemparan terhadap kereta api yang sedang berjalan adalah tindakan yang sangat berbahaya dan dapat berdampak fatal," tegasnya.

Menurutnya, satu lemparan batu saja dapat berubah menjadi tragedi besar apabila mengenai masinis, kru, maupun penumpang. Karena itu, KAI menilai aksi tersebut bukan kenakalan biasa, melainkan tindakan kriminal yang membahayakan keselamatan publik.

"Dampaknya bisa sangat serius apabila batu menembus kaca dan melukai kru maupun penumpang yang berada di dalam kereta," jelasnya.

 

Data KAI Daop 9 Jember menunjukkan kasus pelemparan batu memang mengalami penurunan dari enam kasus pada 2025 menjadi lima kasus pada 2026. Namun, perusahaan menegaskan bahwa penurunan angka tersebut tidak membuat pengawasan menjadi longgar.

"Meski mengalami penurunan, kami tetap menganggap setiap kasus sebagai ancaman serius yang harus dicegah," bebernya.

Wilayah yang tercatat menjadi lokasi pelemparan sepanjang 2026 meliputi Bangsalsari dan Pakusari di Kabupaten Jember serta Kedopok dan Wonoasih di Kota Probolinggo. Bahkan, Kecamatan Wonoasih tercatat menjadi titik paling rawan karena insiden serupa terjadi dua kali dalam satu tahun.

"Lokasi-lokasi yang pernah terjadi gangguan menjadi perhatian khusus dalam pola pengamanan yang kami lakukan," ungkapnya.

Kategori :